![]() |
| di Taman Bunga Kuekonhof, Belanda |
| Di Jugend...Berlin |
| Di Autostad Wolfsburg, Jerman |
| Di Autostadt, Wolfsburg |
| Gerbang masuk Menara Mobil (Turmfahrt) |
| Tunggangan masa depan |
| Di dalam Turmfahrt, autostadt Wolfsburg |
| di atas kapal di sungai Seine Paris |
| Di atas danau belakang Rathaus Hannover, karena membeku, 2012 |
![]() |
| Di hbf Bremen, tahun 2012 |
| Di Bremen |
| Masih di Bremen |
| Mengantar Pak Teguh dan Keluarga pulang ke tanah air |
| Menemani Ust Sarifudin Mustafa, ketika berkunjung ke Hannover |
| dr. Rully A Med.Ed sedang berkunjung ke Hannover |
| Tim Hannover, Braunschweig sedang berpose |
| Naik Boat di Machsche Hannover |
![]() |
| Milad kantornya Stefan/Anna |
![]() |
| Boys band Hannover, lagi berpose di Bremen,,,:) |
![]() |
| Makan basamo di Kuekenhof, Belanda |
Tulisan ini ditulis berdasarkan realitas di Jerman, bahwa, berhasil atau tidaknya seorang mahasiswa S3 lulus tepat waktu atau tidak, atau bahkan tidak lulus sama sekali, sangat dipengaruhi siapa profesor yang anda pilih. Disisi lain, jika calon mahasiswa sudah mendapatkan LoA dari seorang profesor, calon mahasiswa S3 dari Indonesia, biasanya sudah sujud syukur berkali-kali. Padahal berhasilnya mendapatkan LoA dan dilanjutkan terdaftar di salah satu institut atau universitas di Jerman, serta mendapatkan beasiswa merupakan rangkaian awal anda sukses atau tidak studi s3 di Jerman.
Banyak mahasiswa Indonesia berhasil di Jerman, namun tidak sedikit juga yang bermasalah dengan berbagai kadar masalahnya, bisa berbentuk tidak diakui sebagai mahasiswa oleh seorang profesor, padahal sudah bekerja beberapa bulan, bahkan ada yang tahunan, ada juga yang komunikasinya tidak nyambung dengan profesor/supervisor, ada juga yang tidak merasa in grup di grup risetnya, ada pula yang didiskriminasikan karena imigran, ada yang sudah menghabiskan beasiswa 3 tahun dan pulang tanpa kejelasan, ada pula yang mengerjakan riset profesor awalnya A, berubah jadi AB, atau B, atau A,B,C dan seterusnya tanpa berkesudahan bertahun-tahun, ada pula yang menyelamatkan diri dengan cara pindah profesor, bisa juga pindah universitas, dan lain-lain,
Ada yang bisa selesai kurang dari 3 tahun, namun juga ada yang sudah 6 tahun belum ada tanda-tanda diminta untuk menulis hasil risetnya, agar bisa dijadikan disertasi, untuk diuji. Jadi beragamlah nasib mahasiswa Indonesia di Jerman.
Untuk itu, perlu benar-benar direncanakan dengan matang untuk menyelesaikan studi S3 di Jerman, termasuk salah satu yang terpenting adalah mendapatkan profesor dan supervisor yang ideal. Untuk mendapatkan profesor yang ideal tersebut, ada beberapa aspek yang perlu anda perhatikan, seperti:
- Minat/keterkaitan terhadap tema proyek riset.
- Ini menjadi persyaratan mutlak bagi anda ketika mencari profesor pembimbing, karena akan menjadi berat jika anda asal mendapatkan pembimbing saya, sementara temanya anda tidak minati, lebih bahaya lagi jika anda berfikir, pokoknya kuliah S3 di Jerman lagi, nanti pulang ke tanah air dianggap keren, sebaiknya ini dihindari.
- Kemampuan supervisor dalam membimbing (dugaan)
- Perlu anda menduga kemampuan dan ketersediaan waktu profesor anda dalam membeimbing anda, karena secara umum sistim pendidikan di Jerman, mengharapkan mahasiswa untuk mandiri, bahkan kalau perlu tanpa bimbingan. Makanya jangan kaget kalau profesor/supervisor anda tidak membimbing anda, bahkan kesannya "jika anda mau sukses, cari sendiri". Pernah ada teman yang mendapatkan pembimbingnya ternyata tidak mengetahui lebih dalam tentang tema riset yang diajukan mahasiswa S3 nya, bahkan sang pembimbing bilang "saya malah ingin belajar dari risetnya kamu ini". Disisi lain, sebagian mahasiswa Indonesia, sangat membutuhkan bimbingan, karena sisitim pendidikan di Indonesia, membentuk mahasiswa yang butuh bimbingan.
- Kepakaran/keahlian di tema riset yang anda teliti
- Seperti yang saya singgung diatas, maka dari awal hendaknya anda mengetahui kualifikasi pembimbing yang anda tuju, karena ini akan sangat membantu anda ketika mengerjakan riset S3 anda. Jika ternyata pembimbing anda sedang mencoba-coba tema baru yang sebetulnya bukan bidangnya, implikasinya adalah andalah yang harus banting tulang mandiri untuk bisa merencanakan, mengerjakan, mengevaluasi dan menuliskan proyek anda dengan baik.
- Kontinyuitas proyek (minimal 5 tahun yang akan datang)
- Chemistry (dugaan) kecocokan komunikasi
- Fasilitas di lab mendukung riset
- Track record meluluskan doktorand
- Seberapa besar tim/grup riset
- Turn over anggota grup riset
- Funding riset pasca beasiswa anda selesai
- Manfaat untuk instansi anda di Indonesia
Masalah selanjutnya adalah, bagaimana caranya melakukan pengkajian yang mendalam terhadap profesor yang memberikan LoA kepada kita, padahal kita masih berada di Indonesia, yang bisa dilakukan adalah pengkajian melalui internet, dan semoga saja ada lulusan dari profesor tersebut yang anda bisa kontak, dan anda yakini datanya benar. Namun jika ternyata susah, bisa juga disiasati, untuk awal, agar anda mendapatkan beasiswa dan bisa mendaftar pada Universitas di Jerman, maka LoA dari profesor mana saja, ok dulu aja, namun setelah anda benar-benar masuk dalam bimbingan profesor tersebut, anda benar-benar amati dan pelajari profesor anda dengan baik, apakah ini benar-benar akan membantu anda atau tidak. Jika anda meyakini tidak, maka bersegeralah untuk mencari profesor lain, yang labih baik. Dari beberapa kasus yang saya lihat dari teman-teman, langkah ini bisa menyelamatkan studinya.
Musim Panas, Hannover, 29 Juli 2013
| Kanan ke kiri: Annisa, Firman, Santi,? (lupa namanya),Jahar dan Reza selepas interviw di DAAD Bonn 9 Juli 2012 |
Perjalan dari Hannover, Bielefeld, Haam, Dortmund, Essen, Dusseldorf, Duisburg,Koln, Bonn.
Perjalanan ini adalah perjalanan pertama saya ke wilayah NR. Perjalanan menentukan bagi hidup saya dan keluarga. Berangkat dari Hannover 8/07/12 pukul 14.40 dengan IC 2440, sampai di Koln pukul 18.45. Menunggu 8 menit, saya melanjutkan perjalanan dengan IC 2213, pukul 18.53 dari Koln ke Bonn, ternyata perjalanan Koln ke Bonn tersebut hanya 19 menit mengunakan IC, saya mengunakan waktu untuk membaca, karena baru pertama kali, jadi saya memanfaatkan waktu untuk melanjutkan membaca dan sholat ashar.
nah, ternyata, ketika saya sholat kereta sudah meluncur meneruskan perjalalan, jadilah sya harus turun distasiun selanjutnya, yaitu Koblenz hbf. Dalam perjalanan ke Koblenz, saya menelpon pak Taufiq, untuk mengasih tahu saya kelewatan, awalnya pak Taufiq ingin menjemput, tapi saya ngak enak hati, saya bilang ke pak Taufiq biar saya aja nanti yang balik lagi ke Bonn hbf, jadi minta toling ke pak Taufiq menunggu saja di Bonn hbf.
Akhirnya saya mendapatkan tambahan perjalanan ke arah koblenz, perjalanan Bonn - Koblenz memakan waktu 29 menit, perjalanan sore ini mengikuti aliran sungai Reine yang indah dan menakjubkan, sunggai yang jernih dilalui kapal-kapal pengangkut gas ke pangkalannya. Disisi kiri dan kanan sungai Reine diitari perbukitan dan rumah penduduk yang asri nan indah.
Sesampai di Koblenz saya dapat kabar dari akh Reza yang juga sudah sampai di Bonn hbf bersama pak Taufiq, kereta IC ke arah Bonn selanjutnya pukul 20.13, saya langsung mencari reise buro (kantor perlayanan db Bahn), untuk meminta keterangan, saya kelewatan dan berharap tidak musti beli tiket lagi.
Namun ternyata jam segitu kantor db Bahn sudah tutup, dan dimeja informasipun juga antri, akhirnya saya beli tiket IC ke Bonn seharga 10,50 euro.
Akhirnya pukul 20.13 saya berangkat dari Koblenz hbf ke arah Bonn, sekali lagi saya diberi kesempatan untuk menyaksikan panorama alam yang sempurna ciptaan Allah, sungai reine, perbukitan, dan kapal-kapal di sore hari yang masih sangat terang dimusim panas ini. Saya sampai di Bonn hbf pukul 20.42, bertemulah dengan pak Taufiq, Reza mas Agung Hamburg dan perwakilan PPI Bonn.
Dari hbf kita naik bus ke rumah akh Taufiq di Paris strasse, naik bus beberapa menit kami sampai ke rumah asri akh Taufiq di lantai4. sesamapai di rumah ternyata Fathiyya putri sulung akh taufiq (+/- 5 tahun), masih bangun menunggu tamu-tamunya..:). dirumah juga sudah siap-siap mbak Andri PhD, lulusan MHH yang sedang menunggu kelahiran putri keduanya.
Beramah tamah sebentar, langsung kita menikmati hidangan martabak yang dibuat mbak Andri, dilanjutkan dengan makan malam yang penuh kenikmatan. Mas Sigit dan mas Agung pamit, dan kami meneruskan makan malam sambil ngobrol, tentang Hannover, dakwah dll, berasa ketemu teman lama. Maklumlah dulu keluarga akh Taufiq dan mbak andri lama di Hannover, bahkan fathiyya lahir di MHH.
Setelah bercerita, ternyata jam menunjukkan pukul 01.00 malam, akhirnya kami berangsur bersiap-siap untuk tidur, dan sebelum tidur saya sempatkan sholat makam, sholat hajat dan witir, karena khawatir tidak bisa bangun sebelum shubuh, karena shubuh pukul 03.00 pada musim panas ini. Dengan do'a tersebut semoga Allah memudahkan interview di DAAD besok harinya. Amin.
Setelah itu kami tidur dan bangun pukul 04.00, kami melaksanakan sholat shubuh berjama'ah dilanjutkan al matsurat kubro setelah itu dilanjutkan belajar untuk persiapan interview.
Setelah itu melanjutkan ngobrol dengan akh Taufiq dan siap-siap mandi, serta sholat dhuha dan melanjutkan do'a agar dimudahkan interview dan menyampaikan nazar yang dipanjatkan ke rabb semesta alam. Tibalah saatnya sarapan pagi yg nikmat, dan menunggu Fathiyya bagun untuk siap-siap berangkat ke DAAD. Kami mengantar Fathiyya dulu ke TK dan melanjutkan perjalanan ke DAAD.
Hannover, musim panas, 9 juli 2012, pukul 21.59 CET di ketik ulang pada Musim Panas, 29 Juli 2013, pk 04.25
nah, ternyata, ketika saya sholat kereta sudah meluncur meneruskan perjalalan, jadilah sya harus turun distasiun selanjutnya, yaitu Koblenz hbf. Dalam perjalanan ke Koblenz, saya menelpon pak Taufiq, untuk mengasih tahu saya kelewatan, awalnya pak Taufiq ingin menjemput, tapi saya ngak enak hati, saya bilang ke pak Taufiq biar saya aja nanti yang balik lagi ke Bonn hbf, jadi minta toling ke pak Taufiq menunggu saja di Bonn hbf.
Akhirnya saya mendapatkan tambahan perjalanan ke arah koblenz, perjalanan Bonn - Koblenz memakan waktu 29 menit, perjalanan sore ini mengikuti aliran sungai Reine yang indah dan menakjubkan, sunggai yang jernih dilalui kapal-kapal pengangkut gas ke pangkalannya. Disisi kiri dan kanan sungai Reine diitari perbukitan dan rumah penduduk yang asri nan indah.
Sesampai di Koblenz saya dapat kabar dari akh Reza yang juga sudah sampai di Bonn hbf bersama pak Taufiq, kereta IC ke arah Bonn selanjutnya pukul 20.13, saya langsung mencari reise buro (kantor perlayanan db Bahn), untuk meminta keterangan, saya kelewatan dan berharap tidak musti beli tiket lagi.
Namun ternyata jam segitu kantor db Bahn sudah tutup, dan dimeja informasipun juga antri, akhirnya saya beli tiket IC ke Bonn seharga 10,50 euro.
Akhirnya pukul 20.13 saya berangkat dari Koblenz hbf ke arah Bonn, sekali lagi saya diberi kesempatan untuk menyaksikan panorama alam yang sempurna ciptaan Allah, sungai reine, perbukitan, dan kapal-kapal di sore hari yang masih sangat terang dimusim panas ini. Saya sampai di Bonn hbf pukul 20.42, bertemulah dengan pak Taufiq, Reza mas Agung Hamburg dan perwakilan PPI Bonn.
Dari hbf kita naik bus ke rumah akh Taufiq di Paris strasse, naik bus beberapa menit kami sampai ke rumah asri akh Taufiq di lantai4. sesamapai di rumah ternyata Fathiyya putri sulung akh taufiq (+/- 5 tahun), masih bangun menunggu tamu-tamunya..:). dirumah juga sudah siap-siap mbak Andri PhD, lulusan MHH yang sedang menunggu kelahiran putri keduanya.
Beramah tamah sebentar, langsung kita menikmati hidangan martabak yang dibuat mbak Andri, dilanjutkan dengan makan malam yang penuh kenikmatan. Mas Sigit dan mas Agung pamit, dan kami meneruskan makan malam sambil ngobrol, tentang Hannover, dakwah dll, berasa ketemu teman lama. Maklumlah dulu keluarga akh Taufiq dan mbak andri lama di Hannover, bahkan fathiyya lahir di MHH.
Setelah bercerita, ternyata jam menunjukkan pukul 01.00 malam, akhirnya kami berangsur bersiap-siap untuk tidur, dan sebelum tidur saya sempatkan sholat makam, sholat hajat dan witir, karena khawatir tidak bisa bangun sebelum shubuh, karena shubuh pukul 03.00 pada musim panas ini. Dengan do'a tersebut semoga Allah memudahkan interview di DAAD besok harinya. Amin.
Setelah itu kami tidur dan bangun pukul 04.00, kami melaksanakan sholat shubuh berjama'ah dilanjutkan al matsurat kubro setelah itu dilanjutkan belajar untuk persiapan interview.
Setelah itu melanjutkan ngobrol dengan akh Taufiq dan siap-siap mandi, serta sholat dhuha dan melanjutkan do'a agar dimudahkan interview dan menyampaikan nazar yang dipanjatkan ke rabb semesta alam. Tibalah saatnya sarapan pagi yg nikmat, dan menunggu Fathiyya bagun untuk siap-siap berangkat ke DAAD. Kami mengantar Fathiyya dulu ke TK dan melanjutkan perjalanan ke DAAD.
sampai di DAAD pukul 10.an, langsung isi presensi dan kami ke lantai 2 gedung DAAD Nord, disana sudah ada beberapa peserta lainnya. Saya dipanggil nomor 2 yang pertama selesai, tibalah saatnya saya yang dipanggil untuk wawancara. Mulai masuk kedalam ruangan, telah ada 7 orang pewawancara, dimulai dari virifikasi data, dilanjutkan dengan pertanyaan oleh salah seorang profesor seputar proposal saya yang berjudul "Cultural Dynamics of
Peasants and their impact on deforestation in the area of National Park Bukit
Dua Belas (TNBD)-Jambi and National Park Bukit Tiga Puluh(TNBT)-Jambi and Riau". with Promotor: Prof. Dr.
Heiko Faust.
Seru, dan semoga jawaban saya bis amemuaskan para pewawancara. Sudah 20 menit interview berlangsung dan saya sudah habis waktunya , akhirnya saya keluar ruang. Keluar ruang interview, beragam rasanya. alhamdulillah sudah selesai dan selanjutnya perbanyak do'a agar saya mendapatkan beasiswa IGSP-DAAD ini, dan saya yakin saya mendapatkannya.
Dan tantangan selanjutnya menanti, saya harus memperbaiki kemampuan bahasa inggris saya, agar lebih percaya diri berdiskusi, berargumen dan berdebat dengan profesor.
Jumlah yang diwawancara pada periode 9 juli 2012 ini ada 13 orang, diantaranya Jahar, Reza, Santi, Annisa, Firman, Doni, Agung, dll, satu persatu di panggil dan menyelesaikan tugasnya masing-masing.
Jam makan siang kami diajak bang Sukri Tamma (mahasiswa s3 dari makasar) ke mensa uni Bonn untuk makan siang, berbaur dengan mahasiswa lainnya. Bagi kami yang muslim bisa mengambil menu vegetarian yang terdiri dari sayur mayur, kentang yang lumayan nikmat.
Selepas makan siang kami diajak bang Sukri Tamma, melihat building (rektorat) uni Bonn, foto-foto sebentar, trus kami diajak melihat jembatan Kennedy yang menghubungkan sungai Reine. Kemudian sebagian dari kami pulang dan saya dan Reza serta bang Sukri Tamma masih jalan-jalan karena kerreta saya sore pukul 18.44. Jadi sambil menunggu jadwal kerreta, kami sempat sholat zhuhur kerumah Zuhra (anak Aceh mahasiswa master IT di Bonn), setelah itu kami jalan-jalan ke Centrum sampai waktunya pulang.
Ternyata kereta yang akan saya tumpangi ke Koln di cancel, namun pihak petugas Bahn menaikkan kami ke Taxi, untuk menuju salahs atu stasiun di Bonn, dari stasiun ini saya bisa menaiki kereta ke Koln.
Tepat pukul 19.26, ICE 947 menuju Hannover jalan dan sampai Hannover pukul 22.28. Diperjalanan saya menelepon akh taufiq, bang Sukri Tamma untuk berterima kasih dan juga SMS ke kang Asep dan Zuhra untuk berterima kasih.
Semoga Allah menjadikan shilatruhami ini sebagai amal ibadah pemberat timbangan amak di akhirat kelak. Secara khusus saya mengucapkan jazakillah khairan katsiro kepada istri tercinta yang sudah menssuprot penuh persiapan untuk ke Bonn, mulai menyiapkan bahan, edit bahasa, menyiapkan pakaian dan di'a yang tulus dari istri sholehah. dan terima kasih juga kepada omak, mama dan pak Makky dan semua yang ikut mendo'akan. Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita. Amin.
"jangan pernah takut pada makhluk Alah, takulah dan taatlah pada yang menciptakan makhluk tersebut"
Hannover, musim panas, 9 juli 2012, pukul 21.59 CET di ketik ulang pada Musim Panas, 29 Juli 2013, pk 04.25
Kali ini saya menceritakan pelaksanaan berbuka puasa bersama di salah satu masjid di kota Hannover. Masjid ini merupakan masjid paling dekat dengan rumah saya, dan ngak jauh dari pusat kota Hannover. Hampir semua masjid di Jerman adalah masjid komunitas, dan Masjid Shalaheddin el-Eyyubi ini adalah masjid komunitas pendatang dari Kurdi. Makanya masjid ini bagi kami komunitas Indonesia di kota Hannover lebih dikenal dengan masjid Kurdi. Walaupun yang menjadi jama'ah sholat dan masjid ini heterogen dari berbagai negara.
Masjid Kurdi ini mengadakan buka puasa bersama setiap hari selama bulan ramadhan ini. Rangkaian buka puasa bersama diawali dengan sholat ashar berjama'ah dan dilanjutkan dengan tadarusan. ada beberapa orang yang rutin tadarusan di masjid ini, dan biasanya setiap hari tadarusan satu juz.
Sholat ashar dimusim panas ini dilakukan sekitar pukul 17.45 Central Europe Time (CET), dilanjutkan dengan tadarusan 1 juz, layaknya tadarusan di Indonesia, satu orang membaca, kemudian yang lain menyimak, saya termasuk yang diajak untuk ikut tadarusan. Awalnya agak ragu, karena khawatir bacaan al-Qur'an saya belum terlalu bagus, makhroj dan tadwjidnya. Namun karena diajak, saya mau aja, dan setelah dijalani, ternyata tidak semua sahabat dari negara lain, juga fasih seperti yang saya bayangkan, singkat cerita kalau kita dari Indonesia di ajak untuk tadarusan jangan minder dulu lah, beranikan aja, insya Allah kita tidak malu-maluin lah...:).
Setelah Tadarusan, masih ada waktu untuk melanjutkan tilawah mandiri, dan baru mendekati maghrib, yang saat ini sekitar pukul 21.33 CET. Sekitar 10 menit sebelum maghrib, semakin banyak orang yang datang untuk ikut ifthar jama'i bersama, saya perkirakan bisa jumlah yag datang bisa mencapai 100-an orang.
Rangkaian ifthar, ini diawali dengan membatalkan puasa dengan ta'ajil yaitu kurma dan air putih dilantai tempat berlangsungnya sholat, setelah membatalkan puasa dengan ta'ajil seadanya, dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah.
Setelah sholat maghrib berjama'ah, baru jama'ah turun ke lantai bawah (semacam ruang serba guna) yang cukup luas. Di ruang ini, telah tersedia makanan untuk berbuka puasa. Para jama'ah antri mengambil bubur bulgur, yang menjadi menu tetap setiap hari. Bubur ini, bubur hangat yang membuat kita bertambah segar, dimakan dengan roti, dan sayur yang telah disiapkan diatas meja masing-masing.
Setelah selesai makan bubur, kembali antri mengambil makanan selanjutnya, yaitu nasi dan satu jenis lauk, setelah diambil, maka kembali kemeja masing-masing untuk menyantap hidangan.
Disudut ruangan disediakan minuman hangat, teh, kopi dan susu, tinggal diambil oleh masing-masing. Rangkaian ifthar jama'i ini diakhiri dengan do'a bersama yang di pimpin oleh imam masjid. Semua jama'ah yang sedang menikmati hidangan, berhenti sejenak untuk mengaminkan do'a. setelah do'a selesai, baru melanjutkan menikmati hidangan.
Setelah rangkaian ifthar selesai, masih ada waktu untuk istirahat sebentar, baru setelah itu dilanjutkan dengan sholat Isya, dan tarawih. Tarawih di masjid ini dilaksanakan 18 rakaat dilanjutkan witir 3 rakaat. Karena pelaksanaan sudah larut, maka sholat tarawihnya cukup cepat.
Hannover, Jerman, Musim Panas, 15 Ramadhan 1434 H/24 Juli 2013
Rangkaian ifthar, ini diawali dengan membatalkan puasa dengan ta'ajil yaitu kurma dan air putih dilantai tempat berlangsungnya sholat, setelah membatalkan puasa dengan ta'ajil seadanya, dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah.
Setelah selesai makan bubur, kembali antri mengambil makanan selanjutnya, yaitu nasi dan satu jenis lauk, setelah diambil, maka kembali kemeja masing-masing untuk menyantap hidangan.
Hannover, Jerman, Musim Panas, 15 Ramadhan 1434 H/24 Juli 2013
| Kanan ke kiri: Acha, Saya, Dr.-Ing Bondan Halim Winartomo, dan Bakti di Nurnberg, 2010 |
Saya tinggal di bagian utaranya Jerman, tepatnya dikota Hannover, sedangkan Dr.-Ing Bondan Halim Winartomo saat ini tinggal di kota Nurnberg, di daerah selatannya Jerman. Terpisah 464 km, 4 jam 20 menit perjalan kereta api. Saya berkenalan dengannya, karena beliau merupakan orang yang diberikan kontaknya kepada saya ketika mempersiapkan diri berangkat ke Jerman.
Di Jakarta, saya berkenalan dengan Dipl-Ing Hafit Ishandono, yang merupakan teman satu angkatan Dr.-Ing Bondan Halim Winartomo ketika berangkat ke Jerman. dan bukan hanya teman satu angkatan, mereka berdua pernah lama tinggal satu kota di Nurnberg.
Jadilah ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Jerman, orang pertama diluar kota Hannover yang saya datangi adalah keluarga Dr.-Ing Bondan Halim Winartomo ini. Saya bermalam dirumahnya, saya berkenalan dengan keluarganya yang ramah dan hangat. Kami sekeluarga berkenalan dengan istrinya yang bernama ibu Marfuah Sembiring, yang ternyata adik kandung Menkoinfo, bapak Tifatul Sembiring.
Saya juga berkenalan dengan anak-anak beliau, Maryam, Fatih, Isa dan yang paling kecil (saya lupa namanya). Interaksi kami berlanjut di beberapa kegiatan, dan yang bagi saya sangat terkesan adalah kerendahan hati beliau membimbing kami yang baru datang dinegeri minoritas agar bisa menjaga identitas sebagai muslim, saat yang sama tetap bergaul dan beraktivitas seperti biasa.
Hari-hari pertama saya sampai di Jerman, saya mendapat telepon dari Dr-Ing Bondan, anda bisa membayangkan bagaimana senangnya, dinegeri asing, ada orang yang mau menelpon kita yang baru datang. Beliau, menanyakan kabar saya sekeluarga, bercerita bagaimana tips tinggal dinegeri minoritas, diceritakan bagaimana mencari makanan halal, dijelaskan bagaimana menggunakan pemanas ruangan, karena kami datang awal musim dingin, diceritakan bagaimana melihat dan mencari jadwal sholat, masjid, termasuk dijelaskan bagaimana mengunakan toilet di Jerman , yang memang berbeda dibanding Indonesia.
Singkat cerita, saya dan keluarga merasa sangat terbantu dengan penjelasan dan bimbingan beliau. Nah, awalnya saya menyangka, beliau orang biasa-biasa saja, namun setelah kenal lebih jauh, saya mengagumi sosok beliau, yang sangat cerdas, pintar dan berprestasi, dan tetap rendah hati, jauh dari kesombongan. Dr.-Ing.
Bondan Halim Winartomo lahir di Yogyakarta. Pakar Teknik Mesin yang
meraih gelar Dr.-Ing. dari Rheinisch-Westfälischen Technischen Hochschule (RWTH) Aachen pada 2006, dengan penelitian berjudul : "Untersuchung der Strömungsverhältnisse von Kernsandmischungen und Modellierung von Mehrphasenströmung beim Kernschießprozess" Von der Fakultät für Georessourcen und Materialtechnik der RWTH Aachen.
RWTH Aachen, adalah tempat Prof. BJ Habibie menimba ilmu, salah satu universitas elit di Jerman. Hanya orang-orang yang sangat cerdas yang bisa masuk RWTH Aachen, salah satunya Dr.-Ing Bondan. Beliau telah berkarya di Jerman lebih dari 18 tahun. Banyak aktivitas yang telah dilakukan, pernah mengelola Forum Komunikasi Masyarakat Muslim se-Jerman (FORKOM), dan juga mengelola Yayasan Bimbingan Haji ARAFAH.
Kecerdasan beliau dimanfaatkan maksimal untuk pengembangan umat, disamping menguasai bahasa Jerman, Inggris, juga beliau menguasai bahasa Arab, dan tentunya bahasa Indonesia. Jadilah beliau menjadi rujukan tentang berbagai hal yang terkait dengan aktivitas keseharian masyarakat muslim di Jerman.
RWTH Aachen, adalah tempat Prof. BJ Habibie menimba ilmu, salah satu universitas elit di Jerman. Hanya orang-orang yang sangat cerdas yang bisa masuk RWTH Aachen, salah satunya Dr.-Ing Bondan. Beliau telah berkarya di Jerman lebih dari 18 tahun. Banyak aktivitas yang telah dilakukan, pernah mengelola Forum Komunikasi Masyarakat Muslim se-Jerman (FORKOM), dan juga mengelola Yayasan Bimbingan Haji ARAFAH.
Kecerdasan beliau dimanfaatkan maksimal untuk pengembangan umat, disamping menguasai bahasa Jerman, Inggris, juga beliau menguasai bahasa Arab, dan tentunya bahasa Indonesia. Jadilah beliau menjadi rujukan tentang berbagai hal yang terkait dengan aktivitas keseharian masyarakat muslim di Jerman.
Paling baru, saya mengikuti diskusi beliau seputar penetapan hari pertama ramadhan dan penetapan sholat Isya di Jama' atau tidak saat musim panas ini. Jawaban beliau sungguh runut, jelas dan menentramkan.
Bukan hanya pakar Teknik Mesin, juga ulama, keluarga ini juga berhasil mendidik anak-anaknya. Mengenai pendidikan anak merupakan topik yang sering dibahas di Jerman, karena tantangannya amatlah besar. Anak-anak yang dilahirkan dan dididik di Jerman, diajarkan untuk mandiri, dan sampai umur tertentu (17 atau 18 tahun), orang tua tidak diperbolehkan mencampuri urusan anak-anaknya, termasuk urusan agama dan akhlak anak-anaknya, ada aturan hukum yang memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya.
Coba anda bayangkan jika anak-anak muslim, dari keluarga baik-baik ternyata salah jalan, maka kehancuran aqidah dan akhlak lah yang terjadi, dan kalau anda pernah datang dan tinggal di Jerman, inilah yang terjadi terhadap generasi muda di Jerman saat ini, karena mereka diberi kebebasan sebebas bebasnya, tanpa bimbingan, maka akhirnya yang terjadi adalah minum al-khohol, hidup serumah tanpa menikah, dan budaya rusak lainnya.
Melalui proses inilah kerusakan generasi muda diawali, banyak orang tua muslim khawatir sekali dengan budaya ini, bahkan ada orang tua, walaupun sudah mapan pekerjaan dan kehidupan di Jerman, setelah melihat anak-anaknya menginjak remaja, dan khawatir dengan pergaulan dan lingkungan anak-anak, akhirnya memutuskan untuk kembali ketanah air, memulai karir dan kehidupan yang baru.
Kondisi ini sangat disadari oleh keluarga Dr.-Ing Bondan, dan apa yang dilakukan keluarga ini agar anak-anaknya bisa imun dari lingkungannya yang rusak?
Setahu saya semua anak beliau yang saat ini berjumlah empat orang, semuanya dilahirkan di Jerman, yang paling besar bernama Maryam, saat ini sekolah Gymnasium (setara SMA di Indonesia). Maryam bergaul dengan teman-teman lainnya. Dan uniknya Maryam, malah dengan kesadaran sendiri, tanpa disuruh, saat memasuki umur baligh, minta mengunakan jilbab. Bagi saya, ini luar biasa, pada saat Maryam mempunyai pilihan untuk bebas, termasuk memutuskan apa yang akan dilakukan. Malah Maryam memutuskan untuk menunjukkan identitas Islamnya kepada teman-temannya, dengan penuh kesadaran dan bangga dengan identitas keIslaman tersebut.
Coba anda bayangkan jika anak-anak muslim, dari keluarga baik-baik ternyata salah jalan, maka kehancuran aqidah dan akhlak lah yang terjadi, dan kalau anda pernah datang dan tinggal di Jerman, inilah yang terjadi terhadap generasi muda di Jerman saat ini, karena mereka diberi kebebasan sebebas bebasnya, tanpa bimbingan, maka akhirnya yang terjadi adalah minum al-khohol, hidup serumah tanpa menikah, dan budaya rusak lainnya.
Melalui proses inilah kerusakan generasi muda diawali, banyak orang tua muslim khawatir sekali dengan budaya ini, bahkan ada orang tua, walaupun sudah mapan pekerjaan dan kehidupan di Jerman, setelah melihat anak-anaknya menginjak remaja, dan khawatir dengan pergaulan dan lingkungan anak-anak, akhirnya memutuskan untuk kembali ketanah air, memulai karir dan kehidupan yang baru.
Kondisi ini sangat disadari oleh keluarga Dr.-Ing Bondan, dan apa yang dilakukan keluarga ini agar anak-anaknya bisa imun dari lingkungannya yang rusak?
Setahu saya semua anak beliau yang saat ini berjumlah empat orang, semuanya dilahirkan di Jerman, yang paling besar bernama Maryam, saat ini sekolah Gymnasium (setara SMA di Indonesia). Maryam bergaul dengan teman-teman lainnya. Dan uniknya Maryam, malah dengan kesadaran sendiri, tanpa disuruh, saat memasuki umur baligh, minta mengunakan jilbab. Bagi saya, ini luar biasa, pada saat Maryam mempunyai pilihan untuk bebas, termasuk memutuskan apa yang akan dilakukan. Malah Maryam memutuskan untuk menunjukkan identitas Islamnya kepada teman-temannya, dengan penuh kesadaran dan bangga dengan identitas keIslaman tersebut.
Makanya, ketika saya bertemu dengan teman-teman Indonesia, yang sedang bekerja dan berencana menetap lama di Jerman, saya sangat menganjurkan untuk banyak-banyak menggali pengalaman keluarga Dr.-Ing Bondan Halim Winartomo dalam mendidik anak. Pada saat anak-anak di Jerman dididik menjadi bebas, sebebasnya, keluarga ini mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.
Bahkan, saya mendengar anak-anak mereka, juga menghapal Al-Qur'an, dan pernah mendapatkan penghargaan dalam menghapal Al-Qur'an dari Islamic Center Nurnberg. Kalau di Indonesia, ini sudah biasa, tapi kalau di Jerman, ada keluarga Indonesia yang bisa mengkondisikan anak-anaknya menjadi penghapal Al-Qur'an ini LUAR BIASA.
Musim Panas, Hannover, Jerman, 13 Ramadhan 1434H/22 Juli 2013.
Catatan: Tulisan ini adalah opini penulis
Musim Panas, Hannover, Jerman, 13 Ramadhan 1434H/22 Juli 2013.
Catatan: Tulisan ini adalah opini penulis
| di Bremen, Jerman , 2012 |
| juga di Bremen, 2012 |
| Hari pertama Zaky, Masuk Grundschule Goetheplatz |
| Penampilan Kakak Kelas menyambut adik kelas yg baru masuk, Alif disamping Guru kelasnya Frau Hechler |
| berbaris didepan, sebelum diperkenalkan dengan kelas masing-masing |
| Summer Party 2013 |
| makan |
| Alif dan Zaky bersama guru-guru di Hortnya |
| Zaky dan guru kelasnya (Frau Baie), 2013 |
![]() |
| Rihlah di dalam Kapal di Hamburg, 2013 |
| di Autostadt Wolfsburg |







