setelah melalui beberapa kali break dan diskusi yang memanas namun tetap dalam kerangka ukhuwah Islamiyah, dan nilai-nilai Islami di sidang Muktamar FORKOM 2 - 3 April 2011 di KJRI Hamburg, akhirnya disepakati dengan musyawarah dan mufakat memilih Akh Irfan dari Pengajian Kota Hamburg, menjadi ketua terpilih FORKOM 2011-2012. selanjutnya presedium sidang Muktamar FORKOM 2011, menyerahkan berkas kepada Akh Irfan dari pengajian kota Hamburg, sebagai ketua FORKOM Periode 2011-2012 terpilih.

coba perhatikan di sekeliling kita, begitu banyak produk berawal dari masalah, sebutlah Pabrik obat nyamuk, ada karena masalah banyaknya nyamuk, Industri automotive lahir, karena ada masalah susahnya transportasi, Industri Pesawat terbang, karena ada masalah memindahkan orang/barang dari satu wilayah ke wilayah lain dengan cepat, dan seterusnya....
kenapa takut dengan masalah? paradigma anda harus di rubah...bersyukurlah dengan anda yang sampai hari ini terus di gelayuti masalah...dengan demikian akan mendorong anda untuk menemukan peluang-peluang baru, untuk lebih maju.
dalam bernegara, kita prihatin dengan bangsa Indonesia yang selalu di gelayuti masalah, yang dari hari ke hari sepertinya semakin banyak, menyebar, dan akut, sebutlah salah satu contoh korupsi.sepertinya korupsi menjadi budaya negara kita. namun bukan berarti saya setuju dengan praktek korupsi, ini memberikan sinyal kepada bangsa Indonesia, bahwasanya terdapat PELUANG YANG BESAR untuk membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
sebagai contoh, dengan adanya budaya korupsi, mendorong lahirnya lembaga KPK, dengan adanya korupsi melahirkan re numerasi, dengan adanya korupsi pers semakin garang, dengan adanya korupsi anggota DPR dan pejabat negara tidak bisa se enaknya dalam bekerja, bersikap dan bersuara, dengan adanya korupsi jasa advokat semakin dibutuhkan dan bergengsi...
ada beberapa dimensi pelajaran dari masalah yg bisa di ambil, yaitu: (1). masalah tidak perlu di takuti, apa lagi lari darinya, karena sesungguhnya dengan masalah, banyak peluang yang muncul, dalam kapasitas pribadi, anda akan tertantang dan bergerak untuk lebih maju. (2). masalah akan memunculkan kebutuhan, selanjutnya tergantung anda apakah mampu menjadikan kebutuhan tersebut manjadi peluang atau tidak, jika mampu, akan menghasilkan produk, yang bisa menyebabkan anda menjadi lebih sejahtera. (3). masalah terkait dengan momentum, artinya masalah yang timbul, harus cepat di sikapi, dan peluang yang timbul harus cepat diambil dan dikerjakan. (4).setiap orang dan bangsa sukses adalah orang-orang yang menjadikan masalah menjadi peluang dan lahir menjadi pemenang. (5). ketika menghadapi masalah, tenang menghadapi dan menganalisa masalah, hindari larut dalam masalah, lihatlah masalah dari luar (out the box), identifikasi, cari dan temukan peluang di dalamnya. dan lakukan....
tips sederhana mencari peluang dalam masalah adalah: (1). tuliskan masalah anda. (2). sambil tenang dan tersenyum,tuliskan sebanyak mungkin peluang yang timbul dari masalah.(3). tangkap peluang yang timbul untuk di kerjakan.
selamat mencoba...semoga bermanfaat....
hannover, Jerman, Musim panas 2011
jaharuddin

pagi ini saya dan istri mengantar, anak saya yang pertama Alif, masuk Grundschule (SD), di sekitar rumah kami di Hannover, Jerman. di undangan dari sekolah jam 09.00 CET tertulis begini "es begint fur alle kinder um 9.00 Uhr mit einer okumenischen Feir fur alle konfessionen in der Neustadter Hof-und Stadtkirche st. johanis rote reihe 7". dengan semangatnya saya dan istri berserta zaky, mengantar alif ke acara tersebut, sebelum pukul 09.00 CET kami sekeluarga sudah di lokasi tersebut.
tempat tersebut, cuma 4 menit jalan kaki dari rumah kami, sampai di sana, saya dan keluarga kaget, kok acaranya di gereja ya..???, saya masih berharap saya salah tempat acara, saya coba cari lagi ke tempat lain, kok cuma adanya acara ini aja, trus kami ketemu tetangga yang juga anaknya mau masuk Grundschule (SD). akhirnya nanyalah kami, ternyata pagi itu anak-anak yang akan masuk Grundschule di adakan acara kebaktian di gereja tersebut.
wah, gimana nih?
kami memberanikan diri untuk tidak ikut acara tersebut, ...
dan seingat saya, saat alif persiapan bahasa di sekolahnya, juga cukup banyak teman-teman alif yang muslim, itu terlihat dari orang tuanya berparas arab, atau turki, atau cukup banyak juga ibu mereka yang berjilbab. kok mereka ngak pada datang ya?
ternyata mereka sudah tahu itu acara kebaktian, jadi mereka ngak perlu datang.
ada satu keluarga dari maroko yang juga muslim , datang pagi itu ke gereja , melihat istri saya berjilbab, mereka langsung bertanya...dan kami menjelaskan bahwa di dalam sebagian anak-anak yang akan masuk Grundschule, sedang ada kebaktian.
mereka, akhirnya mengerti dan juga tidak ikut acara...karena tidak perlu ikut acara di gereja,kami langsung ke SD, karena jam 10.00 nya , ada acara penyambutan dan pengarahan untuk orang tua dan anak-anak.
Alif dan kawan-kawannya satu angkatan, di sambut oleh guru dan kakak-kakak kelasnya, dengan mempertunjukkan kebolehan masing-masing kelas, ada yang menari,bernyanyi, sport, dll.
acaranya meriah, dan alif dkk se angkatannya, disambut dengan pemberian bunga, satu persatu...hangat, indah, bersahabat....mereka adik-adik kelas di rangkul, dan hari itu mereka diresmikan sebagai bagian dari keluarga besar Grundschule Goetheplatz.
ketika anak-anak baru di tanya oleh gurunya, misalnya dimana tk kamu dahulu?...yang paling antusias mengangkat tangan untuk menjawab, si Zaky...dia mau menjelaskan sekolah TK nya, dll...zaky sangat antusias berbicara bahasa jerman, dan sangat antusias untuk masuk Grundschule...sabar ya nak...tahun depan insya Allah, Zaky juga akan disambut oleh kakak-kakak kelas zaky, salah satunya abang alif...:).
selamat sekolah Alif...
o, ya, persiapan alif sebelum masuk ke grundschule, sekitar 1 bulan sebelum masuk ke Grundschule, biasanya orang tua di kasih beberapa kertas yang isinya pengumuman, perlengkapan yang perlu di siapkan dan informasi exstrakurikuler, dll. nah terkait dengan perlengkapan yang disiapkan oleh orang tua, listnya sekitar 1 lembar, ini terdiri dari alat tulis (pensil biasa, pensil warna, lem, penghapus,rautan pencil, cat warna, kuas,gunting,map, buku gambar,binder,dll), buku pelajaran, sepatu sport, sepatu dalam ruang, dll. nah untuk melengkapi perlengkapan ini, bagi anda orang tua ngak usah pusing, biar praktis dan hemat, anda cukup datang ke toko teddy, atau 1 euro shop, atau mc geis, anda dengan mudah mendapatkan perlengkapan yang ada di list tersebut dengan harga cukup terjangkau. kalau bahasa jerman anda masih terbatas, minta tolong aja kepada petugas di toko untuk mencarikan, dalam jangka waktu singkat perlengkapan tersebut sebagian besar di dapatkan.
kalau untuk buku ada 2 seri buku yang diminta untuk di adakan yaitu buku belajar mengenal huruf (6 jilid), dan buku mathematik (6 jilid). untuk buku ini anda bisa cari di toko buku Lehman, atau kalau tidak tersedia saat itu di toko, anda bisa order, satu hari kemudian bisa anda ambil bukunya. atau bisa juga di beli melalui e-bay, dari informasi teman bisa lebih murah.
semua perlengkapan tersebut, di namai satu persatu, kami gotong royong menuliskan M.D. Alif Jaharuddin. M.D itu singkatan dari Muhammad Dzakwan. atau sebagai do'a juga singkatan dari Medical Doctor. Amin-amin-amin ya robbil alamin.
dari sisi biaya total sekitar 80 euro.
semoga bermanfaat...

Oleh Rhenald Kasali*
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.
Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?" Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.
*) Guru Besar Universitas Indonesia
Jawapos, 8 Agustus 2011
