
coba perhatikan di sekeliling kita, begitu banyak produk berawal dari masalah, sebutlah Pabrik obat nyamuk, ada karena masalah banyaknya nyamuk, Industri automotive lahir, karena ada masalah susahnya transportasi, Industri Pesawat terbang, karena ada masalah memindahkan orang/barang dari satu wilayah ke wilayah lain dengan cepat, dan seterusnya....
kenapa takut dengan masalah? paradigma anda harus di rubah...bersyukurlah dengan anda yang sampai hari ini terus di gelayuti masalah...dengan demikian akan mendorong anda untuk menemukan peluang-peluang baru, untuk lebih maju.
dalam bernegara, kita prihatin dengan bangsa Indonesia yang selalu di gelayuti masalah, yang dari hari ke hari sepertinya semakin banyak, menyebar, dan akut, sebutlah salah satu contoh korupsi.sepertinya korupsi menjadi budaya negara kita. namun bukan berarti saya setuju dengan praktek korupsi, ini memberikan sinyal kepada bangsa Indonesia, bahwasanya terdapat PELUANG YANG BESAR untuk membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
sebagai contoh, dengan adanya budaya korupsi, mendorong lahirnya lembaga KPK, dengan adanya korupsi melahirkan re numerasi, dengan adanya korupsi pers semakin garang, dengan adanya korupsi anggota DPR dan pejabat negara tidak bisa se enaknya dalam bekerja, bersikap dan bersuara, dengan adanya korupsi jasa advokat semakin dibutuhkan dan bergengsi...
ada beberapa dimensi pelajaran dari masalah yg bisa di ambil, yaitu: (1). masalah tidak perlu di takuti, apa lagi lari darinya, karena sesungguhnya dengan masalah, banyak peluang yang muncul, dalam kapasitas pribadi, anda akan tertantang dan bergerak untuk lebih maju. (2). masalah akan memunculkan kebutuhan, selanjutnya tergantung anda apakah mampu menjadikan kebutuhan tersebut manjadi peluang atau tidak, jika mampu, akan menghasilkan produk, yang bisa menyebabkan anda menjadi lebih sejahtera. (3). masalah terkait dengan momentum, artinya masalah yang timbul, harus cepat di sikapi, dan peluang yang timbul harus cepat diambil dan dikerjakan. (4).setiap orang dan bangsa sukses adalah orang-orang yang menjadikan masalah menjadi peluang dan lahir menjadi pemenang. (5). ketika menghadapi masalah, tenang menghadapi dan menganalisa masalah, hindari larut dalam masalah, lihatlah masalah dari luar (out the box), identifikasi, cari dan temukan peluang di dalamnya. dan lakukan....
tips sederhana mencari peluang dalam masalah adalah: (1). tuliskan masalah anda. (2). sambil tenang dan tersenyum,tuliskan sebanyak mungkin peluang yang timbul dari masalah.(3). tangkap peluang yang timbul untuk di kerjakan.
selamat mencoba...semoga bermanfaat....
hannover, Jerman, Musim panas 2011
jaharuddin

pagi ini saya dan istri mengantar, anak saya yang pertama Alif, masuk Grundschule (SD), di sekitar rumah kami di Hannover, Jerman. di undangan dari sekolah jam 09.00 CET tertulis begini "es begint fur alle kinder um 9.00 Uhr mit einer okumenischen Feir fur alle konfessionen in der Neustadter Hof-und Stadtkirche st. johanis rote reihe 7". dengan semangatnya saya dan istri berserta zaky, mengantar alif ke acara tersebut, sebelum pukul 09.00 CET kami sekeluarga sudah di lokasi tersebut.
tempat tersebut, cuma 4 menit jalan kaki dari rumah kami, sampai di sana, saya dan keluarga kaget, kok acaranya di gereja ya..???, saya masih berharap saya salah tempat acara, saya coba cari lagi ke tempat lain, kok cuma adanya acara ini aja, trus kami ketemu tetangga yang juga anaknya mau masuk Grundschule (SD). akhirnya nanyalah kami, ternyata pagi itu anak-anak yang akan masuk Grundschule di adakan acara kebaktian di gereja tersebut.
wah, gimana nih?
kami memberanikan diri untuk tidak ikut acara tersebut, ...
dan seingat saya, saat alif persiapan bahasa di sekolahnya, juga cukup banyak teman-teman alif yang muslim, itu terlihat dari orang tuanya berparas arab, atau turki, atau cukup banyak juga ibu mereka yang berjilbab. kok mereka ngak pada datang ya?
ternyata mereka sudah tahu itu acara kebaktian, jadi mereka ngak perlu datang.
ada satu keluarga dari maroko yang juga muslim , datang pagi itu ke gereja , melihat istri saya berjilbab, mereka langsung bertanya...dan kami menjelaskan bahwa di dalam sebagian anak-anak yang akan masuk Grundschule, sedang ada kebaktian.
mereka, akhirnya mengerti dan juga tidak ikut acara...karena tidak perlu ikut acara di gereja,kami langsung ke SD, karena jam 10.00 nya , ada acara penyambutan dan pengarahan untuk orang tua dan anak-anak.
Alif dan kawan-kawannya satu angkatan, di sambut oleh guru dan kakak-kakak kelasnya, dengan mempertunjukkan kebolehan masing-masing kelas, ada yang menari,bernyanyi, sport, dll.
acaranya meriah, dan alif dkk se angkatannya, disambut dengan pemberian bunga, satu persatu...hangat, indah, bersahabat....mereka adik-adik kelas di rangkul, dan hari itu mereka diresmikan sebagai bagian dari keluarga besar Grundschule Goetheplatz.
ketika anak-anak baru di tanya oleh gurunya, misalnya dimana tk kamu dahulu?...yang paling antusias mengangkat tangan untuk menjawab, si Zaky...dia mau menjelaskan sekolah TK nya, dll...zaky sangat antusias berbicara bahasa jerman, dan sangat antusias untuk masuk Grundschule...sabar ya nak...tahun depan insya Allah, Zaky juga akan disambut oleh kakak-kakak kelas zaky, salah satunya abang alif...:).
selamat sekolah Alif...
o, ya, persiapan alif sebelum masuk ke grundschule, sekitar 1 bulan sebelum masuk ke Grundschule, biasanya orang tua di kasih beberapa kertas yang isinya pengumuman, perlengkapan yang perlu di siapkan dan informasi exstrakurikuler, dll. nah terkait dengan perlengkapan yang disiapkan oleh orang tua, listnya sekitar 1 lembar, ini terdiri dari alat tulis (pensil biasa, pensil warna, lem, penghapus,rautan pencil, cat warna, kuas,gunting,map, buku gambar,binder,dll), buku pelajaran, sepatu sport, sepatu dalam ruang, dll. nah untuk melengkapi perlengkapan ini, bagi anda orang tua ngak usah pusing, biar praktis dan hemat, anda cukup datang ke toko teddy, atau 1 euro shop, atau mc geis, anda dengan mudah mendapatkan perlengkapan yang ada di list tersebut dengan harga cukup terjangkau. kalau bahasa jerman anda masih terbatas, minta tolong aja kepada petugas di toko untuk mencarikan, dalam jangka waktu singkat perlengkapan tersebut sebagian besar di dapatkan.
kalau untuk buku ada 2 seri buku yang diminta untuk di adakan yaitu buku belajar mengenal huruf (6 jilid), dan buku mathematik (6 jilid). untuk buku ini anda bisa cari di toko buku Lehman, atau kalau tidak tersedia saat itu di toko, anda bisa order, satu hari kemudian bisa anda ambil bukunya. atau bisa juga di beli melalui e-bay, dari informasi teman bisa lebih murah.
semua perlengkapan tersebut, di namai satu persatu, kami gotong royong menuliskan M.D. Alif Jaharuddin. M.D itu singkatan dari Muhammad Dzakwan. atau sebagai do'a juga singkatan dari Medical Doctor. Amin-amin-amin ya robbil alamin.
dari sisi biaya total sekitar 80 euro.
semoga bermanfaat...

Oleh Rhenald Kasali*
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.
Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?" Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.
*) Guru Besar Universitas Indonesia
Jawapos, 8 Agustus 2011
Oleh: Jaharuddin
Kisah ini saya tulis dari pengamatan saya, terhadap perilaku perempuan Jerman yang memilihara anjing, dan biasanya dibawa kemana-mana layaknya anak. Mengapa perempuan karena dari pengamatan saya sebagian besar yang memelihara anjing adalah perempuan. Ngak tahu alasannya kenapa?..yang berminat menjadi bahan riset silakan?...:)
Kisah ini saya tulis dari pengamatan saya, terhadap perilaku perempuan Jerman yang memilihara anjing, dan biasanya dibawa kemana-mana layaknya anak. Mengapa perempuan karena dari pengamatan saya sebagian besar yang memelihara anjing adalah perempuan. Ngak tahu alasannya kenapa?..yang berminat menjadi bahan riset silakan?...:)
Kemudian saya perlu membatasi, apa yang dimaksud dengan perempuan Jerman, karena kenyataanya banyak warga negara Jerman, namun sebetulnya mereka adalah imigran dari eropa timur, turki, timur tengah dan Negara lainnya, mereka sudah dari kecil, bahkan lahir di Jerman, mereka bisa diketahui dari pengamatan terhadap warna rambut dan bentuk wajah, saya di kasih tahu oleh teman yang sudah lebih lama di Jerman, dia bisa membedakan antara Jerman asli dengan orang-orang imigran. Yang saya maksud perempuan jerman di sini adalah semua perempuan di Jerman dengan budaya lokal Jerman saat ini, terutama dalam hal perilakunya terhadap anjingnya.
Pernahkah anda melihat seseorang berbicara dengan anjingnya?, Pernahkah anda melihat seseorang perempuan membawa anjing berjalan-jalan selayaknya anak, di pangku, di beri pakaian, di beri tempat khusus (keranjang, atau seperti kinder hanger/tempat anak di bagian belakang sepeda), di peluk, di cium, …dan seterusnya….bahkan saya menemukan di internet ada yang menikah dengan anjingnya…..
Jalan-jalanlah anda ke jerman….anda akan dengan mudah menemukannya di tempat-tempat umum…
Yang mengelitik bagi saya adalah, kenapa itu dilakukan?...bagi orang Jerman, tulisan ini mungkin di bilang usil, atau sesuatu yang tidak perlu di bahas…namun bagi saya …ini menarik dan kita perlu mengambil pelajaran dari perilaku ini.
Kenapa perempuan yang kebanyakan memelihara anjing?...padahal setahu saya di Jerman, orang yang mau melihara anjing harus mendapat sertifikasi untuk boleh memelihara anjing, dan harus kursus dulu. …serta kenapa mereka para perempuan mau?...karena ini adalah naluri alami seorang perempuan yang sesungguhnya adalah ke-ibu-an.
Namun budaya di Jerman, telah membentuk perempuan tidak pada optimalisasi naluri alami perempuan yaitu ke-ibu-an. Budaya yang terbentuk adalah tidak mau menikah, free sex, dan sangat sedikit yang mau mempunyai anak, menikah formal aja ngak mau, apalagi punya anak…bahasa candanya…mau enaknya, ngak mau anaknya. …yang lebih memprihatinkan, adalah minimnya rasa tanggung jawab untuk mempertahankan generasi yang unggul dan sehat. mereka bilang tidak mau repot, tidak mau ada ikatan,..dan seterusnya…..saya juga sedang menulis, akibat budaya free sex, bisa jadi Jerman akan kehabisan generasi, tanda-tandanya sudah terlihat.
Budaya memelihara anjing, merupakan jelmaan dari rasa kesepian para ibu (yang berumur ibu), karena perempuan membutuhkan teman ngobrol, teman bercanda, sementara itu mereka lebih suka hidup sendiri, akhirnya alternatifnya memelihara anjing. Dulu kala, fungsi anjing adalah untuk menjaga kebun, menjaga dari maling, sekarang fungsi anjing berubah dan naik peringkat.
Makanya, untuk mengusir rasa kesepian, perempuan membawa anjingnya untuk jalan-jalan, dan bermain dengan anjingnya.
Pelajaran .
Ternyata kemajuan teknologi, kemapanan ekonomi, keteraturan, dan banyak positif lainnya dari Negara Jerman, tidak mampu mengisi ke kosongan jiwa penduduknya. Artinya nilai-nilai alami dari setiap orang belum mampu di penuhi dengan baik oleh pembangunan dan kemajuan yang mereka lakukan.
Kita memang harus banyak belajar teknologi, keteraturan, kedisiplinan, menjaga kebersihan, dan hal-hal positif lainnya dari Jerman, namun ada sisi –sisi yang tidak mampu mereka penuhi dengan baik, yaitu optimalisasi fungsi alami dari penduduknya, seperti agama, mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan generasi yang unggul dan sehat, menjauhi al-khohol, tidak free sex.
ini berarti, budaya seperti tidak percaya agama dalam berbagai kadar, baik rendah (lalai) maupun tinggi (atheis), free sex, alkhohol. memelihara anjing, telah terbukti merusak. dan ini tidak perlu di contoh. dan kalau kita cinta tanah air kita yang besar bernama Indonesia, cinta dengan budaya yang baik dan sehat, maka budayakan cinta agama dan benar-benar di jadikan agama sebagai way of live, menikah pada saatnya, menjauhi al-khohol, dan membangun anak-anak dan generasi yang sehat dan unggul. suatu saat bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang unggul dimana orang-orang dari belahan dunia lainnya, akan belajar dan banyak menimba ilmu dari bangsa bernama Indonesia. Amin.
Semoga bermanfaat.
Ditulis di ruang kerja leibnizhaus appartemen C.3.1, Holzmarkt 4, Hannover, Jerman, ditemani Alif, pukul 11.59 CET.
ini pesan perpisahan dari guru TK Alif, tanggal 29 Juli 2011...untuk yg akan meneruskan SD.
o..ya saya bercerita sedikit tentang sistim pendidikan TK di Hannover, Jerman. untuk share bagi siapa saja yg mau mengetahui...
menurut saya ada perbedaan sistim pendidikan TK di Indonesia dibandingkan dengan sistim pendidikan TK di kota hannover, Jerman. Alif mulai masuk TK di Hannover Januari 2011 dan Alif Mei 2011, berumur 6 tahun. anak-anak yang umur 6 tahun, dengan sendirinya dicarikan sekolah Oleh Imigrasi Kota (pemerintah Kota Hannover) untuk masuk SD (Grundshule).
selama Alif TK...mata pelajaran utamanya adalah BERMAIN, anak saya (Alif) aktifitas setiap harinya bermain in door dan out door. aktifitas sekolah dimulai jam 10 pagi sampai 12.30, sebelum jam 10 anak-anak sarapan bersama. khusus anak saya, dari awal kami kasih tahu ke guru sekolahnya, anak kami sarapan di rumah, jadi tidak ikut sarapan pagi bersama,ini tidak masalah. hal ini kami lakukan dengan pertimbangan adanya perbedaan budaya sarapan antara indonesia dan jerman, dan anak kami tentunya butuh masa adaptasi. termasuk kekhawatiran kami tentang ke halalan makanan di sekolah.
nah, alif biasanya kami antar ke sekolah sebelum pukul 10 pagi, dan langsung ganti sepatu dengan sandal/sepatu dalam ruang, dan langsung masuk ke arena main. awalnya alif tidak langsung mau bermain, karena sebagai orang asing tentunya ada kendala bahasa.
namun lama kelamaan tidak ada masalah, karena kebesaran kuasa Allah, anak-anak sangat cepat bisa adaptasi dan memahami bahasa asing dalam hal ini bahasa jerman, padahal anak-anak kami benar-benar tidak mempunyai bekal bahasa jerman awalnya, namun karena tidak merasa malu, mau bermain dan bergaul dengan orang jerman, dan seterusnya.... pembelajaran anak-anak super cepat. dalam hal ini kita orang tua/dewasa perlu belajar dan mengambil pelajaran dari cara anak-anak belajar bahasa asing, walaupun tidak punya basic sama sekali.
bahasa sehari-hari di sekolah mengunakan bahasa jerman, kalau untuk orang tua biasanya ada beberapa guru yg bisa berbahasa inggris, dan kita bisa berbahasa inggris dengan guru, walaupun tentunya mereka lebih senang, jika kita juga bisa berbahasa Jerman.
mengenai bahasa jerman alif, awalnya pasif, namun setelah 2 bulanan mulai aktif bahasa jermannya.
kembali ke sistim pendidikan, tidak ada sama sekali beban MEMBACA, TULIS, DAN HITUNG selama alif di TK, bahkan saya dengar di tinggat SD pun baru diperkenalkan huruf di kelas 2. jadi benar-benar anak-anak di suruh bermain, dan sering sekali di ajak ke luar, bermain bersama. menurut saya malah ini benar-benar menumbuh kembangkan motorik, psiko, dan potensi-potensi anak. apalagi beban PR...sama sekali tidak ada...
o..ya, sebagai informasi, mengenai biaya saya dikenakan iuran 30 euro per bulan. ini bukan biaya sekolah, karena prinsipnya sekolah gratis. ini adalah biaya penganti makan siang untuk alif. mengenai biaya ini, setahu saya ada dua kategori, jika sekolah pemerintah (negeri), maka prinsipnya gratis. namun kalau sekolah swasta, anak kita dikenakan biaya , selain biaya makan, anak saya yg kedua Zaky...dikenakan biaya 175 euro perbulan.untuk zaky setahu saya biaya tersebut terdiri dari biaya sekolah, biaya makan, dan biaya penitipan anak, karena jam sekolah zaky lebih lama, mulai pukul 10.00 s.d 16.30. bahkan kalau kita baru bisa jemput setelah jam 16.30 pun juga bisa.
namun setelah zaky masuk berumur 5 tahun, biayanya turun menjadi 55 euro per bulan. jadi besar kecilnya biaya, juga di tentukan umur anak kita, semakin kecil anak, dimasukkan ke sekolah semakin besar biayanya.
dengan lamanya anak di sekolah, ada hasil yg berbeda tentang kecepatan bahasa. anak saya yang kedua Zaky, lebih cepat aktif bahasa jermannya di banding abangnya Alif, kalau yang lain menurut saya sama aja.
mengenai makan siang bagi orang muslim, bisa di pesankan ke pihak sekolah untuk hanya makan dan minum halal saja. dan pihak sekolah sangat kooperatif, karena mereka juga sudah terbiasa dengan anak-anak muslim. walaupun muslim di kota ini minoritas, namun konsep dasar mereka, tidak boleh ada diskriminasi, dalam apapun.
untuk masuk SD, anak-anak yg akan berumur 6 tahun, akan mendapat surat dari imigrasi kota, untuk mendaftarkan anaknya ke beberapa sekolah yang di rekomendasikan, setahu saya di dasarkan letak geografis rumah kita, artinya di carikan sekolah yang di dekat rumah/tempat tinggal kita berada.
setelah didaftarkan ke sekolah yg kita tuju, pihak sekolah memberi rekomendasi kepada orang tua melalui surat, untuk tes kesehatan ke dinas kesehatan kota. tes kesehatan ini yang di lihat yg paling utama adalah tumbuh kembang anak. kalau tidak ada masalah maka langsung masuk ke SD. Alif, diminta untuk kursus bahasa jerman beberapa minggu di SD nya, setelah itu insya Allah langsung bisa masuk SD. tidak ada tes lainnya...
ini sedikit catatan pengalaman saya, dalam menyekolahkan anak di Hannover, Jerman pada tingkat TK, semoga bermanfaat sebagai informasi awal bagi siapa saja yang membutuhkan...o,ya. yang saya dengar sistim pendidikan di masing-masing kota di jerman belum tentu sama, karena masing-masing provinsi bisa membuat regulasinya masing-masing. namun secara umum, dari berbagai informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman, ngak usah terlalu khawatir lah dengan anda yang mau study atau mukim di Jerman, secara umum pelayanan publik di Jerman sudah sangat stabil dan baik. saya belum mendengar ada warga asing terlantar di sini. bahkan pihak pemerintah kotanya akan membantu, sampai ke finansial jika , ada warga nya tidak mampu, termasuk warga asing.
ini bukan promosi lho ya..:), namun cuma memberikan informasi bagi siapa saja yang juga ada keinginan untuk melanjutkan study di sini.
