28,35% Penduduk dunia pada tahun 2006 beragama Islam, ini berarti 1.789.770.000 orang penduduk dunia beragama Islam, sedangkan jumlah populasi dunia pada tahun 2006 adalah 6.313.780.000 orang.
Sementara itu data populasi muslim di kota-kota besar eropa tahun 2007 , adalah
Marseiles 25% = 200 rb jiwa dari 800 ribu jiwa
Amsterdam 24% = 180 rb dari 750 ribu jiwa
Stockholm 20% = 155 rb dari 771.038 jiwa
Brussels 17 – 20 % = 160 – 220 ribu
Moscow, 16 – 20% = 2 juta dari 10-12 juta jiwa
London, 17% = 1,3 juta dari 7,5 juta penduduk
Birmingham, 14,3%= 139.771 jiwa
Utrecht, 13,2% = 38.300 dari 289 ribu jiwa
Roterdam, 13% = 80 ribu dari 600 ribu jiwa
Copenhagen, 12,6%= 63 ribu dari 500 ribu penduduk
Paris, 7,38% = 155 ribu dari 2,1 juta jiwa
Hamburg, 6,4% = 110 ribu dari 1,73 juta jiwa
Berlin, 5,9% = 200 ribu dari 3,4 juta jiwa
Dari data di atas paling tidak terdapat 4.781.071 jiwa muslim di 13 kota eropa, ini merupakan pasar potensial bagi penerbit buku Islam, seharusnya sangat mudah untuk menjual 3.000 eksemplar buku jika dipasarkan di eropa.
Potensi pasar
Beberapa faktor pendukung peluang pasar buku agama Islam berbahasa Inggris adalah:
1. Pendidikan dinegara-negara maju seperti Eropa, Amerika dan Australia, termasuk Singapura dan Malaisya pendidikannya tinggi.
2. Jika buku diterbitkan dalam bahasa Inggrish maka paling tidak bisa dipasarkan mulai dari Singapura, Malaisya, Eropa, Amerika dan Australia, karena mayoritas negara-negara ini mempunyai kemampuan yang baik dalam penguasaan bahasa Inggrish
3. Akan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat muslim di negara-negara tersebut terhadap agama Islam, yang bisa jadi baru mereka anut
4. Penyebaran buku Islam di negara-negara tersebut mampunyai posisi yang sangat strategis, karena tingkat keingin tahuan masyarakat non muslim terhadap Islam semakin tinggi
5. Kemampuan beli masyarakat muslim dinegara maju tinggi
Langkah realisasi
1. Pilihlah tema buku yang tepat untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggrish
Salah satu tema yang diduga mudah untuk menjualnya di negara maju tersebut adalah tema ibadah, dan buku-buku yang memberi nasehat tanpa perlu mengurui
2. Saat yang sama lakukan survey pasar dan saluran distribusi yang bisa digunakan dalam ”mengekspor” buku kenegara tujuan
3. Jadikan Singapura sebagai pintu masuk kenagara-negara lain, seperti layaknya perdagangan yang lain
Tantangan
Tantangan yang menghadang didepan mata dalam mendistribusikan buku Islam ke negara lain adalah:
1. Belum terbangunnya saluran distribusi
2. Bisa jadi ada beberapa negara penguasaan bahasa ingrishnya juga terbatas
namun tantangan ini lambat laun harus di hadapi oleh para penerbit buku Islam, dan seiring dengan waktu maka saluran distribusi juga akan terbentuk, sambil mengetahui Taste pasar di negara-negara tersebut. Silakan siapa penerbit yang mau mencoba.
Jaharuddin
Penerbitbukuislam.blogspot.com
Sementara itu data populasi muslim di kota-kota besar eropa tahun 2007 , adalah
Marseiles 25% = 200 rb jiwa dari 800 ribu jiwa
Amsterdam 24% = 180 rb dari 750 ribu jiwa
Stockholm 20% = 155 rb dari 771.038 jiwa
Brussels 17 – 20 % = 160 – 220 ribu
Moscow, 16 – 20% = 2 juta dari 10-12 juta jiwa
London, 17% = 1,3 juta dari 7,5 juta penduduk
Birmingham, 14,3%= 139.771 jiwa
Utrecht, 13,2% = 38.300 dari 289 ribu jiwa
Roterdam, 13% = 80 ribu dari 600 ribu jiwa
Copenhagen, 12,6%= 63 ribu dari 500 ribu penduduk
Paris, 7,38% = 155 ribu dari 2,1 juta jiwa
Hamburg, 6,4% = 110 ribu dari 1,73 juta jiwa
Berlin, 5,9% = 200 ribu dari 3,4 juta jiwa
Dari data di atas paling tidak terdapat 4.781.071 jiwa muslim di 13 kota eropa, ini merupakan pasar potensial bagi penerbit buku Islam, seharusnya sangat mudah untuk menjual 3.000 eksemplar buku jika dipasarkan di eropa.
Potensi pasar
Beberapa faktor pendukung peluang pasar buku agama Islam berbahasa Inggris adalah:
1. Pendidikan dinegara-negara maju seperti Eropa, Amerika dan Australia, termasuk Singapura dan Malaisya pendidikannya tinggi.
2. Jika buku diterbitkan dalam bahasa Inggrish maka paling tidak bisa dipasarkan mulai dari Singapura, Malaisya, Eropa, Amerika dan Australia, karena mayoritas negara-negara ini mempunyai kemampuan yang baik dalam penguasaan bahasa Inggrish
3. Akan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat muslim di negara-negara tersebut terhadap agama Islam, yang bisa jadi baru mereka anut
4. Penyebaran buku Islam di negara-negara tersebut mampunyai posisi yang sangat strategis, karena tingkat keingin tahuan masyarakat non muslim terhadap Islam semakin tinggi
5. Kemampuan beli masyarakat muslim dinegara maju tinggi
Langkah realisasi
1. Pilihlah tema buku yang tepat untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggrish
Salah satu tema yang diduga mudah untuk menjualnya di negara maju tersebut adalah tema ibadah, dan buku-buku yang memberi nasehat tanpa perlu mengurui
2. Saat yang sama lakukan survey pasar dan saluran distribusi yang bisa digunakan dalam ”mengekspor” buku kenegara tujuan
3. Jadikan Singapura sebagai pintu masuk kenagara-negara lain, seperti layaknya perdagangan yang lain
Tantangan
Tantangan yang menghadang didepan mata dalam mendistribusikan buku Islam ke negara lain adalah:
1. Belum terbangunnya saluran distribusi
2. Bisa jadi ada beberapa negara penguasaan bahasa ingrishnya juga terbatas
namun tantangan ini lambat laun harus di hadapi oleh para penerbit buku Islam, dan seiring dengan waktu maka saluran distribusi juga akan terbentuk, sambil mengetahui Taste pasar di negara-negara tersebut. Silakan siapa penerbit yang mau mencoba.
Jaharuddin
Penerbitbukuislam.blogspot.com
Tips Penerbit[1] bertahan saat kertas dan harga BBM Naik
Oleh : Jaharuddin
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat Setia Dharma Madjid mengatakan, kenaikan kertas antara 15 persen sampai 20 persen, tentu berpengaruh pada harga buku yang diperkirakan akan naik 20 persen. Itu dengan catatan bahan baku lain tidak naik. Sebelum ada kenaikan harga kertas, kertas agak sulit dicari di pasar. Jika kondisi ini berlangsung lama, produksi buku bisa tersendat.
Kenaikan harga buku akan berpengaruh terhadap penurunan omset, katanya. Tentang kenaikan harga kertas ini, diakui Dharma, IKAPI tak bisa berbuat apa-apa. Ini juga akibat kenaikan harga komponen produksi kertas, seperti kenaikan harga BBM dan atau energi listrik [2].
Kondisi ini akan diperparah lagi, dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, seperti premium, rencananya akan dinaikkan dari Rp. 4.500 menjadi Rp. 6.000, paling lambat akhir Mei 2008 ini, terlepas ketidak setujuan kita terhadap pemerintah, yang sedang berkuasa dan memang sudah ”tidak peduli’ dengan masyarakat yang miskin semakin miskin, kelas menengah bisa menjadi miskin, dan seterusnya.
Daya Beli Konsumen Melemah
Hal yang paling awal yang akan dialami para konsumen buku adalah harga belinya melemah, kenapa demikian karena saat yang sama harga kertas naik, yang berimplikasi pada para penerbit buku akan menaikkan harga bukunya, masyarakat juga dihadapkan pada kenaikan harga BBM yang akan berimplikasi naiknya harga secara umum, dalam kondisi ini maka yang terjadi adalah semakin lebarnya jurang pemisah antara daya beli masyarakat (apalagi terhadap buku) dengan harga buku yang ditawarkan penerbit.
Dalam hukum permintaan dan penawaran dikatakan harga keseimbangan terjadi jika ada titik temu antara harga yang ditawarkan produsen dengan harga yang di inginkan konsumen, dengan kondisi seperti ini akankah buku tetap akan dibeli oleh konsumen?
Yang perlu dilakukan Penerbit
Dengan kondisi seperti ini, maka penerbit sebagai produsen buku harus lebih kreatif dalam melihat pola ini, hal yang mungkin dilakukan adalah:
1. harga tetap dinaikkan dengan kisaran yang mungkin diterima oleh konsumen
2. Lakukan komunikasi yang intensif kepada para distributor dan toko buku, dengan target distributor dan toko buku akan faham kenapa penrbit menaikkan harga
3. Lakukan evaluasi, dan buat kategori buku yang telah diterbitkan, seperti.
a. Buku-buku best seller
Buku best seller adalah buku yang menjadi andalan dalam penjualan buku, untuk produk-produk ini yang bisa dilakukan adalah, selalu menyediakan stock buku ini, kemudian jika harganya saat ini sudah dikategorikan mahal, di atas Rp. 70.000,- per eksemplar, maka lakukan deversifikasi, seperti menjadikan buku best seller tersebut menjadi 2 jilid, atau mencetak dengan kertas yang lebih murah, atau jika awalnya Hard cover, jadikan soft cover, atau kalau perlu di edit ulang sehingga halamannya bisa lebih sedikit, yang pada akhirnya akan menyebabkan harga jualnya masih dalam kisaran angka Rp. 25.000 – Rp. 70.000,-
b. Buku-buku Biasa saja
Untuk buku dengan kategori biasa, yaitu buku yang masih laku/terjual di pasar tapi tidak menjadi best seller, maka di cetak beberapa kali saja untuk melengkapi stock di gudang.
c. Buku-Buku Slow Moving
Untuk buku slow moving , maka adakan kerjasama bazar buku murah dan discount pada angka yang menarik bagi konsumen. pola harga Rp. 5.000/bk, atau 10.000/bk dan 15.000/bk juga menarik untuk dilakukan.
4. Tetap menerbitkan buku baru
Kalau saya menyarankan walaupun kondisi pasar buku sedang sulit, namun para penerbit tetap menerbitkan buku baru, namun sekali lagi seleksilah dengan sungguh-sungguh buku yang akan diterbitkan, agar tidak menambah PR di belakang hari
5. Lakukan Deversifikasi produk.
Seperti yang saya uraikan pada point 3, maka dari awal fikirkan diversifikasi produk, seperti jumlah halamannya jangan terlalu tebal, ukuran bukunya, cover yang eye tracking, isi yang menyejukkan dan menambah semangat, jangan menerbitkan buku yang mahal dan isinya ”berat” dan bertele-tele.
6. Evaluasi jalur distribusi yang tidak efektif
Untuk mengurangi biaya maka, jalur distribusi yang costnya terlalu besar perlu diamputasi, termasuk didalamnya adalah toko-toko yang penjualannya tidak siqnifican, bisa jadi juga harus ditutup.
Semoga bermanfaat.
[1] Yang saya maksud penerbit disini adalah penerbit buku umum dan buku agama, tidak termasuk penerbit buku pelajaran dan proyek
[2] www.kompas.com, kamis, 3 april 2008
Oleh : Jaharuddin
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat Setia Dharma Madjid mengatakan, kenaikan kertas antara 15 persen sampai 20 persen, tentu berpengaruh pada harga buku yang diperkirakan akan naik 20 persen. Itu dengan catatan bahan baku lain tidak naik. Sebelum ada kenaikan harga kertas, kertas agak sulit dicari di pasar. Jika kondisi ini berlangsung lama, produksi buku bisa tersendat.
Kenaikan harga buku akan berpengaruh terhadap penurunan omset, katanya. Tentang kenaikan harga kertas ini, diakui Dharma, IKAPI tak bisa berbuat apa-apa. Ini juga akibat kenaikan harga komponen produksi kertas, seperti kenaikan harga BBM dan atau energi listrik [2].
Kondisi ini akan diperparah lagi, dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, seperti premium, rencananya akan dinaikkan dari Rp. 4.500 menjadi Rp. 6.000, paling lambat akhir Mei 2008 ini, terlepas ketidak setujuan kita terhadap pemerintah, yang sedang berkuasa dan memang sudah ”tidak peduli’ dengan masyarakat yang miskin semakin miskin, kelas menengah bisa menjadi miskin, dan seterusnya.
Daya Beli Konsumen Melemah
Hal yang paling awal yang akan dialami para konsumen buku adalah harga belinya melemah, kenapa demikian karena saat yang sama harga kertas naik, yang berimplikasi pada para penerbit buku akan menaikkan harga bukunya, masyarakat juga dihadapkan pada kenaikan harga BBM yang akan berimplikasi naiknya harga secara umum, dalam kondisi ini maka yang terjadi adalah semakin lebarnya jurang pemisah antara daya beli masyarakat (apalagi terhadap buku) dengan harga buku yang ditawarkan penerbit.
Dalam hukum permintaan dan penawaran dikatakan harga keseimbangan terjadi jika ada titik temu antara harga yang ditawarkan produsen dengan harga yang di inginkan konsumen, dengan kondisi seperti ini akankah buku tetap akan dibeli oleh konsumen?
Yang perlu dilakukan Penerbit
Dengan kondisi seperti ini, maka penerbit sebagai produsen buku harus lebih kreatif dalam melihat pola ini, hal yang mungkin dilakukan adalah:
1. harga tetap dinaikkan dengan kisaran yang mungkin diterima oleh konsumen
2. Lakukan komunikasi yang intensif kepada para distributor dan toko buku, dengan target distributor dan toko buku akan faham kenapa penrbit menaikkan harga
3. Lakukan evaluasi, dan buat kategori buku yang telah diterbitkan, seperti.
a. Buku-buku best seller
Buku best seller adalah buku yang menjadi andalan dalam penjualan buku, untuk produk-produk ini yang bisa dilakukan adalah, selalu menyediakan stock buku ini, kemudian jika harganya saat ini sudah dikategorikan mahal, di atas Rp. 70.000,- per eksemplar, maka lakukan deversifikasi, seperti menjadikan buku best seller tersebut menjadi 2 jilid, atau mencetak dengan kertas yang lebih murah, atau jika awalnya Hard cover, jadikan soft cover, atau kalau perlu di edit ulang sehingga halamannya bisa lebih sedikit, yang pada akhirnya akan menyebabkan harga jualnya masih dalam kisaran angka Rp. 25.000 – Rp. 70.000,-
b. Buku-buku Biasa saja
Untuk buku dengan kategori biasa, yaitu buku yang masih laku/terjual di pasar tapi tidak menjadi best seller, maka di cetak beberapa kali saja untuk melengkapi stock di gudang.
c. Buku-Buku Slow Moving
Untuk buku slow moving , maka adakan kerjasama bazar buku murah dan discount pada angka yang menarik bagi konsumen. pola harga Rp. 5.000/bk, atau 10.000/bk dan 15.000/bk juga menarik untuk dilakukan.
4. Tetap menerbitkan buku baru
Kalau saya menyarankan walaupun kondisi pasar buku sedang sulit, namun para penerbit tetap menerbitkan buku baru, namun sekali lagi seleksilah dengan sungguh-sungguh buku yang akan diterbitkan, agar tidak menambah PR di belakang hari
5. Lakukan Deversifikasi produk.
Seperti yang saya uraikan pada point 3, maka dari awal fikirkan diversifikasi produk, seperti jumlah halamannya jangan terlalu tebal, ukuran bukunya, cover yang eye tracking, isi yang menyejukkan dan menambah semangat, jangan menerbitkan buku yang mahal dan isinya ”berat” dan bertele-tele.
6. Evaluasi jalur distribusi yang tidak efektif
Untuk mengurangi biaya maka, jalur distribusi yang costnya terlalu besar perlu diamputasi, termasuk didalamnya adalah toko-toko yang penjualannya tidak siqnifican, bisa jadi juga harus ditutup.
Semoga bermanfaat.
[1] Yang saya maksud penerbit disini adalah penerbit buku umum dan buku agama, tidak termasuk penerbit buku pelajaran dan proyek
[2] www.kompas.com, kamis, 3 april 2008
