Saat ini saya sedang berada di bandara international Lotnisco Chopina Polandia, keberuntungan yang mengantarkan saya ke airport ini karena beberapa hari ini saya diundang teman-teman mahasiswa berdiskusi tentang banyak hal tentang kehidupan di dua kota di Polandia, yaitu di Warsawa dan Mikolajki.
Warsawa sudah pernah saya kenal melalui beberapa film yang beberapa kali ku tonton, bayangan saya tentang kota Warsawa adalah kota yang dipenuhi dengan salju karena sedang musim dingin, kemudian bangunannya bangunan kuno yang tidak terawat karena sepengetahuan ku Polandia adalah salah satu sekutu Uni Soviet dalam membendung arus kapitalisme di dunia, artinya saya tidak berharap banyak akan menemukan modernitas seperti Negara Jerman misalnya. Saya berada di kota Warsawa selama tiga hari, sempat mengunjungi beberapa sudut kota seperti centrum, disana terdapat gedung science dan culture di jantung kota Warsawa.
Karena tidak mempunyai ekspektasi tinggi terhadap kota ini, maka saya datang dengan kondisi biasa-biasa saja, dan memang saya mendapatkan kondisi transportasi satu tingkat dibawah Jerman. Namun masih jauh di atas Jakarta. Sebagian dari dugaan saya tidak terbukti, karena di central kota Warsawa saya menemukan mall besar disana, saya juga menemukan beberapa gedung mencakar langit, dan termasuk beberapa diantaranya industri bisnis dan jasa berbasis US seperti JW Mariot, Novotel, dll. Kemudian saya juga menemukan beberapa perusahaan yang juga ada di Jerman seperti C & A, HM, Lidl, dll. Kemudian saya juga menemukan Carefour dan Makro di kota ini.
Lumyan maju dan modern, apalagi bandaranya yang saat ini saya duduk di salah satu sudutnya, seperti layaknya bandara berkelas international, beberapa tingkat di atas bandara Soekarno Hatta. Saya menduga terdapat kemajuan yang berarti di Polandia dari sebelumnya.
Keunikan kota ini adalah culture yang tidak mementingkan mengecat bagian luar rumahnya, tidak terlalu mudah bagi anda yang ingin menemukan rumah yang megah dan anggun di kota ini, karena ternyata setelah saya tanyakan kepada teman yang menemani perjalanan saya, orang Polandia tidak mementingkan bentuk rumah dari luar, mereka lebih mementingkan bentuk dalam rumahnya. Jadi anda akan menemukan rumah yang megah dikawasan tengah kota sekalipun, namun kalau dari luar tidak menunjukkan kemewahannya. Hal yang sama akan anda temui juga dengan bagian luar transportasi publik di kota Warsawa. Namun sedikit berbeda dengan bangunan tua di kota tua kota Warsawa, atau dan beberapa bangunan di seputar pusat kota Warsawa, bagus layaknya kota-kota lainnya.juga sempat meng
Saya juga sempat mengunjungi kota Mikolajki, Mazury, sebuah kota wisata di utara Warsawa, untuk mencapai kota ini anda bisa naik bus atau kereta api dengan lama perjalan sekitar 5 jam, saya sempat dua hari dikota ini untuk berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa di acara Perhimpunan Musim Sejuk (PMS) 2011. Kota Mikolajki merupakan kota peristirahatan, dimana dikota ini banyak terdapat hotel, arena wisata dan sarana wisata lainnya. Namun saat ini tidak terlalu ramai karena sedang musim dingin, walaupun untuk tahun ini belum turun salju, penghujung tahun ini biasanya sudah tebal salju menyelimuti.
Dikota ini saya berdiskusi dengan mahasiswa fakultas kedokteran dari Polandia dan Check republic, ada sekitar 30an orang, mereka adalah calon dokter yang ditugaskan negaranya belajar di sini.
Saya cukup kaget dengan semangat mereka yang tinggi, mereka orang-orang yang selain mempelajari dengan sunngguh-sungguh disiplin ilmunya, saat yang sama sangat peduli dengan Islam, dan punya keinginan kuat untuk mengajak orang lain juga menjadi seorang muslim yang baik, saya sempat bertanya di dalam hati, mengapa mereka mampu mempertahankan identitas beragamanya dengan baik, bahkan bersemangat untuk mengajak yang lain, padahal mereka jauh dari orang tua, tinggal di Polandia yang tidak mudah menemukan masjid, termasuk makanan halal, bahkan ternyata sebagian dari mereka terpaksa sholat di gereja (salah satunya di gereja yang tersedia di airport Chopina warsawa ini).
Saya mendapatkan cerita sebagian mereka terpaksa sholat digereja, karena gereja yang disediakan oleh airport (seperti layaknya masjid di Indonesia) di bandara ini, sering kali kosong, jadi dari pada kosong dan tidak tersedia musholla apalagi masjid di bandara ini, akhirnya mereka sholat di dalam gereja tersebut.
Kenapa mereka mampu mempertahankan keimanannya, sementara mereka adalah anak-anak muda yang wajar saja jika mempunyai keinginan untuk jalan-jalan ke Negara lain, mumpung di eropa?, namun yang mereka lakukan adalah melaksanakan pelatihan bagaimana agar mahasiswa Islam lebih berkualitas dan bermanfaat bagi umat Islam, padahal minggu depan mereka akan menghadapi ujian di kampus masing-masing. Ternyata mereka adalah orang-orang yang melakukan proses pembinaan diri (tarbiyah) dan mempunyai kesadaran bahwa tidak cukup hanya pintar dalam disiplin ilmu yang itu adalah kebutuhan akal mereka, dan mereka adalah pribadi-pribadi yang sehat secara fisik karena mereka adalah calon dokter, mereka sangat sadar bahwa hati mereka perlu di isi kebutuhannya yaitu selalu mengingat Allah.
Dan mereka merasakan nikmatnya berilmu, sehat dan beribadah, akhirnya perasaan senang itulah yang ingin mereka bagi kepada teman-teman mahasiswa lainnya. luar biasa!.
Jazakallah khairan katsiro kepada sehabat mahasiswa Polandia dan Check Republik, semoga pertemuan kita beberapa hari ini menjadi amal ibadah, dan saling menguatkan untuk berkontribusi membangun masa depan yang lebih baik, saya mendo’akan anda semua semoga menjadi orang sukses, dan sholeh, selalu berjuang untuk kebaikan manusia dan menjadi batu bata bangunan Islam yang agung, semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan suasana yang jauh lebih baik di masa mendatang. Terima kasih atas semua kebaikan anda semua, saya sangat bangga dengan anda semua, dan semoga menjadi motivasi lebih bagi saya untuk terus mengembangkan diri dan berkontribusi bagi kejayaan umat Islam dan kemanusiaan.
Semoga bermanfaat.
Jaharuddin
Jum’at, Musim dingin, 30 desember 2011, Pukul 17.23 CET, saat menunggu penerbangan Warsawa – Frankfurt mengunakan Lufthansa LH 1353/063 pk 18.45, kemudian melanjutkan penerbangan dengan Lufthansa LH 058/055 ke Hannover, Insya Allah sampai di Hannover pukul 21.30 CET
![]() |
| Di hbf Bremen, tahun 2012 |
| Di Bremen |
| Masih di Bremen |
| Mengantar Pak Teguh dan Keluarga pulang ke tanah air |
| Menemani Ust Sarifudin Mustafa, ketika berkunjung ke Hannover |
| dr. Rully A Med.Ed sedang berkunjung ke Hannover |
| Tim Hannover, Braunschweig sedang berpose |
| Naik Boat di Machsche Hannover |
![]() |
| Milad kantornya Stefan/Anna |
![]() |
| Boys band Hannover, lagi berpose di Bremen,,,:) |
![]() |
| Makan basamo di Kuekenhof, Belanda |
Tulisan ini ditulis berdasarkan realitas di Jerman, bahwa, berhasil atau tidaknya seorang mahasiswa S3 lulus tepat waktu atau tidak, atau bahkan tidak lulus sama sekali, sangat dipengaruhi siapa profesor yang anda pilih. Disisi lain, jika calon mahasiswa sudah mendapatkan LoA dari seorang profesor, calon mahasiswa S3 dari Indonesia, biasanya sudah sujud syukur berkali-kali. Padahal berhasilnya mendapatkan LoA dan dilanjutkan terdaftar di salah satu institut atau universitas di Jerman, serta mendapatkan beasiswa merupakan rangkaian awal anda sukses atau tidak studi s3 di Jerman.
Banyak mahasiswa Indonesia berhasil di Jerman, namun tidak sedikit juga yang bermasalah dengan berbagai kadar masalahnya, bisa berbentuk tidak diakui sebagai mahasiswa oleh seorang profesor, padahal sudah bekerja beberapa bulan, bahkan ada yang tahunan, ada juga yang komunikasinya tidak nyambung dengan profesor/supervisor, ada juga yang tidak merasa in grup di grup risetnya, ada pula yang didiskriminasikan karena imigran, ada yang sudah menghabiskan beasiswa 3 tahun dan pulang tanpa kejelasan, ada pula yang mengerjakan riset profesor awalnya A, berubah jadi AB, atau B, atau A,B,C dan seterusnya tanpa berkesudahan bertahun-tahun, ada pula yang menyelamatkan diri dengan cara pindah profesor, bisa juga pindah universitas, dan lain-lain,
Ada yang bisa selesai kurang dari 3 tahun, namun juga ada yang sudah 6 tahun belum ada tanda-tanda diminta untuk menulis hasil risetnya, agar bisa dijadikan disertasi, untuk diuji. Jadi beragamlah nasib mahasiswa Indonesia di Jerman.
Untuk itu, perlu benar-benar direncanakan dengan matang untuk menyelesaikan studi S3 di Jerman, termasuk salah satu yang terpenting adalah mendapatkan profesor dan supervisor yang ideal. Untuk mendapatkan profesor yang ideal tersebut, ada beberapa aspek yang perlu anda perhatikan, seperti:
- Minat/keterkaitan terhadap tema proyek riset.
- Ini menjadi persyaratan mutlak bagi anda ketika mencari profesor pembimbing, karena akan menjadi berat jika anda asal mendapatkan pembimbing saya, sementara temanya anda tidak minati, lebih bahaya lagi jika anda berfikir, pokoknya kuliah S3 di Jerman lagi, nanti pulang ke tanah air dianggap keren, sebaiknya ini dihindari.
- Kemampuan supervisor dalam membimbing (dugaan)
- Perlu anda menduga kemampuan dan ketersediaan waktu profesor anda dalam membeimbing anda, karena secara umum sistim pendidikan di Jerman, mengharapkan mahasiswa untuk mandiri, bahkan kalau perlu tanpa bimbingan. Makanya jangan kaget kalau profesor/supervisor anda tidak membimbing anda, bahkan kesannya "jika anda mau sukses, cari sendiri". Pernah ada teman yang mendapatkan pembimbingnya ternyata tidak mengetahui lebih dalam tentang tema riset yang diajukan mahasiswa S3 nya, bahkan sang pembimbing bilang "saya malah ingin belajar dari risetnya kamu ini". Disisi lain, sebagian mahasiswa Indonesia, sangat membutuhkan bimbingan, karena sisitim pendidikan di Indonesia, membentuk mahasiswa yang butuh bimbingan.
- Kepakaran/keahlian di tema riset yang anda teliti
- Seperti yang saya singgung diatas, maka dari awal hendaknya anda mengetahui kualifikasi pembimbing yang anda tuju, karena ini akan sangat membantu anda ketika mengerjakan riset S3 anda. Jika ternyata pembimbing anda sedang mencoba-coba tema baru yang sebetulnya bukan bidangnya, implikasinya adalah andalah yang harus banting tulang mandiri untuk bisa merencanakan, mengerjakan, mengevaluasi dan menuliskan proyek anda dengan baik.
- Kontinyuitas proyek (minimal 5 tahun yang akan datang)
- Chemistry (dugaan) kecocokan komunikasi
- Fasilitas di lab mendukung riset
- Track record meluluskan doktorand
- Seberapa besar tim/grup riset
- Turn over anggota grup riset
- Funding riset pasca beasiswa anda selesai
- Manfaat untuk instansi anda di Indonesia
Masalah selanjutnya adalah, bagaimana caranya melakukan pengkajian yang mendalam terhadap profesor yang memberikan LoA kepada kita, padahal kita masih berada di Indonesia, yang bisa dilakukan adalah pengkajian melalui internet, dan semoga saja ada lulusan dari profesor tersebut yang anda bisa kontak, dan anda yakini datanya benar. Namun jika ternyata susah, bisa juga disiasati, untuk awal, agar anda mendapatkan beasiswa dan bisa mendaftar pada Universitas di Jerman, maka LoA dari profesor mana saja, ok dulu aja, namun setelah anda benar-benar masuk dalam bimbingan profesor tersebut, anda benar-benar amati dan pelajari profesor anda dengan baik, apakah ini benar-benar akan membantu anda atau tidak. Jika anda meyakini tidak, maka bersegeralah untuk mencari profesor lain, yang labih baik. Dari beberapa kasus yang saya lihat dari teman-teman, langkah ini bisa menyelamatkan studinya.
Musim Panas, Hannover, 29 Juli 2013
Kali ini saya menceritakan pelaksanaan berbuka puasa bersama di salah satu masjid di kota Hannover. Masjid ini merupakan masjid paling dekat dengan rumah saya, dan ngak jauh dari pusat kota Hannover. Hampir semua masjid di Jerman adalah masjid komunitas, dan Masjid Shalaheddin el-Eyyubi ini adalah masjid komunitas pendatang dari Kurdi. Makanya masjid ini bagi kami komunitas Indonesia di kota Hannover lebih dikenal dengan masjid Kurdi. Walaupun yang menjadi jama'ah sholat dan masjid ini heterogen dari berbagai negara.
Masjid Kurdi ini mengadakan buka puasa bersama setiap hari selama bulan ramadhan ini. Rangkaian buka puasa bersama diawali dengan sholat ashar berjama'ah dan dilanjutkan dengan tadarusan. ada beberapa orang yang rutin tadarusan di masjid ini, dan biasanya setiap hari tadarusan satu juz.
Sholat ashar dimusim panas ini dilakukan sekitar pukul 17.45 Central Europe Time (CET), dilanjutkan dengan tadarusan 1 juz, layaknya tadarusan di Indonesia, satu orang membaca, kemudian yang lain menyimak, saya termasuk yang diajak untuk ikut tadarusan. Awalnya agak ragu, karena khawatir bacaan al-Qur'an saya belum terlalu bagus, makhroj dan tadwjidnya. Namun karena diajak, saya mau aja, dan setelah dijalani, ternyata tidak semua sahabat dari negara lain, juga fasih seperti yang saya bayangkan, singkat cerita kalau kita dari Indonesia di ajak untuk tadarusan jangan minder dulu lah, beranikan aja, insya Allah kita tidak malu-maluin lah...:).
Setelah Tadarusan, masih ada waktu untuk melanjutkan tilawah mandiri, dan baru mendekati maghrib, yang saat ini sekitar pukul 21.33 CET. Sekitar 10 menit sebelum maghrib, semakin banyak orang yang datang untuk ikut ifthar jama'i bersama, saya perkirakan bisa jumlah yag datang bisa mencapai 100-an orang.
Rangkaian ifthar, ini diawali dengan membatalkan puasa dengan ta'ajil yaitu kurma dan air putih dilantai tempat berlangsungnya sholat, setelah membatalkan puasa dengan ta'ajil seadanya, dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah.
Setelah sholat maghrib berjama'ah, baru jama'ah turun ke lantai bawah (semacam ruang serba guna) yang cukup luas. Di ruang ini, telah tersedia makanan untuk berbuka puasa. Para jama'ah antri mengambil bubur bulgur, yang menjadi menu tetap setiap hari. Bubur ini, bubur hangat yang membuat kita bertambah segar, dimakan dengan roti, dan sayur yang telah disiapkan diatas meja masing-masing.
Setelah selesai makan bubur, kembali antri mengambil makanan selanjutnya, yaitu nasi dan satu jenis lauk, setelah diambil, maka kembali kemeja masing-masing untuk menyantap hidangan.
Disudut ruangan disediakan minuman hangat, teh, kopi dan susu, tinggal diambil oleh masing-masing. Rangkaian ifthar jama'i ini diakhiri dengan do'a bersama yang di pimpin oleh imam masjid. Semua jama'ah yang sedang menikmati hidangan, berhenti sejenak untuk mengaminkan do'a. setelah do'a selesai, baru melanjutkan menikmati hidangan.
Setelah rangkaian ifthar selesai, masih ada waktu untuk istirahat sebentar, baru setelah itu dilanjutkan dengan sholat Isya, dan tarawih. Tarawih di masjid ini dilaksanakan 18 rakaat dilanjutkan witir 3 rakaat. Karena pelaksanaan sudah larut, maka sholat tarawihnya cukup cepat.
Hannover, Jerman, Musim Panas, 15 Ramadhan 1434 H/24 Juli 2013
Rangkaian ifthar, ini diawali dengan membatalkan puasa dengan ta'ajil yaitu kurma dan air putih dilantai tempat berlangsungnya sholat, setelah membatalkan puasa dengan ta'ajil seadanya, dilanjutkan dengan sholat magrib berjamaah.
Setelah selesai makan bubur, kembali antri mengambil makanan selanjutnya, yaitu nasi dan satu jenis lauk, setelah diambil, maka kembali kemeja masing-masing untuk menyantap hidangan.
Hannover, Jerman, Musim Panas, 15 Ramadhan 1434 H/24 Juli 2013
Beberapa
waktu lalu telah didiskusikan seputar pendapat/fatwa institusi bernama RIGD yg
berkantor di Frankfurt terkait pelaksanaan shalat tarawih. Namun karena file
PDF fatwa tsb bhs arab dan jerman, tampaknya masih belum difahami isinya oleh
sebagian orang. Ini saya ringkaskan dalam bahasa indonesia.
Posting
saya ini bukan dalam memberikan fatwa, akan tetapi sekedar meringkaskan hal
yang sudah ada dalam bhs indonesia. Fatwa mana yang diikuti, asal jelas
dalilnya, maka pilihan masing2.
==============================
Disebutkan
dalam dokumen tsb bahwa pada intinya mereka mengikuti fatwa dari European
Council for Fatwa and Research
PUASA Di
Jerman masih bisa diketahui waktu Shubuh/Imsak dan Maghrib. Oleh karena itu
jadwal puasa di Jerman mengikuti lokasi setempat dan tidak mengikuti Makkah
SHALAT
JAMA' MAGHRIB & ISYA' DI JERMAN
Pada
tanggal 18 Mei s.d. 8 Agustus secara umum diperbolehkan menjama' Maghrib dan
Isya' di Jerman. Jama' artinya begitu shalat yang pertama selesai, maka diikuti
oleh shalat yang kedua dengan tanpa jeda waktu.
Alasan:
sulitnya memastikan waktu Isya' di Jerman (yakni posisi matahari 18° di bawah
horison).
SHALAT
TARAWIH
Dalam
dokumen tsb. ada 3 alternatif:
1. Begitu
masuk maghrib, maka dilakukan iftar (makan dan minum). 1 jam atau 1,5 jam
kemudian maka dilaksanakan shalat maghrib, lalu dijama' isya', lalu Tarawih.
2. Begitu
masuk maghrib maka dilakukan shalat maghrib, setelah itu ifthar (makan+minum).
1 jam atau 1,5 jam kemudian baru isya'+tarawih.
Maka
praktik ini sebenarnya juga menjama' shalat namun dengan diselingi jeda waktu
(pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim).
3. Masjid
yang tidak melakukan shalat jama' maghrib+isya', disarankan utk mengikuti
jadwal daerah latitude (Breitengrad) 45°.
IQAMAH
SHALAT SHUBUH
Iqamah
disarankan untuk diakhirkan, supaya mempermudah orang datang ke masjid.
Kemudian
disebutkan dalam fatwa tsb. bahwa dalam hal2 seperti ini biasa ada perbedaan
pendapat. Yang dikedepankan adalah sikap toleran. Oleh karena itu silahkan saja
jika mengikuti perhitungan atau pendapat lain yang ada, yang dengan pendapat
yang lain tsb. manusia bisa melaksanakan shalat dengan mudah (tidak sulit) dan
dengan tidak terpaksa.
Insitusi
tsb. menyeru kpd masjid2 di Jerman utk mampu bersepakat menyusun jadwal shalat
setahun yang seragam (dengan tetap memperhitungkan perbedaan waktu antar
regional di jerman).
Demikian
terjemahnya, semoga bermanfaat.
===================
Tambahan
dari saya: daerah 45° contohnya: Perancis bagian selatan, Italia (Turin, Milan,
Venesia), Kroatia. Bandingkan: jerman paling selatan 47°. Jerman
utara misalnya Hamburg pada posisi 53°.
Saya
pribadi, selama ini memang belum pernah mengetahui detail penentuan shalat
isya' di masjid Turki atau masjid islamic center nürnberg, 2 buah masjid yang
saya shalat berjamaah di sana.
Contoh
jadwal hari Selasa 16 Juli:
Masjid
Turki: maghrib 21:23 isya 22:53
Masjid
Islamic Center: maghrib 21:17 isya 22:47
Kalau
diperiksa jadwal tiap harinya di bulan Juli ini: maka antara maghrib dan isya'
bedanya selalu konstant = 1,5 jam. Apakah ini berarti waktu isya' di 2 masjid
tsb. berdasarkan pendapat 1,5 jam jarak maghrib dan isya'? Jadi sebenarnya
tidak menentukan isya' dengan posisi matahari, namun lebih pada waktu maghrib +
1,5 jam ? Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan oleh ke 2 masjid ini
adalah opsi tarawih no. 2 yakni: maghrib on-time. Lalu makan minum, kemudian
1,5 jam kemudian shalat isya'. Maka seandainya waktu isya'nya belum masuk
(menurut ukuran posisi matahari), berarti kami melakukan shalat jama' maghrib
isya' dengan jeda 1,5 jam.
Wallahua'lam
saya sendiri tidak tahu bagaimana menandai waktu isya' di musim panas ini dg
ukuran alam. Ada yang bilang, di musim panas ini langit tidak akan pernah
gelap.
Semoga
bermanfaat
Wassalam
a.fatih
Nuernberg,
17 Juli 2013
| di rumah pak Bintoro& Bu Maryam, Oldernburg, 16 Juli 2013, p' Hendry S, mas Afik Hadanto lagi ngak bisa hadir |
Akhy
Tak terasa sejak ana mengenal akhi telah bergulir
Menggulung satukan kita dalam tawa dan getir
Ada peluh yang kita reguk dalam dahaga
Ada tawa yang menghiasi langkah kita
Akhy
Jalan dakwah tiada berujung
Meski ruang dan waktu tak lagi satu
Namun do'a untukmu senantiasa mengiringi
Biar kini ruang dan waktu tak satu lagi
Namun hati dan langkah ini tak pernah terbagi
Langkahku langkahmu kan tetap sama
Dalam dakwah dan naungan Islam sempurna
Do'akan kami dan kita istiqomah dalam perjuangan
-NHKKB-
Akhi...doakan saya tetap istiqomah
Selamat menjalani episode kehidupan selanjutnya, kembali kealam nyata....
Semoga shilaturahim ini tetap terjaga
Inget2 kami akh Jahar, antum konglomerat hati kami
Mae, JCK, RF, BIN S, IND,ICH, HS
Mba Nana....perasaan cepet banget yach dah mo pulang aja, huhu...padahal perasaan saya baru ketemu beberapa waktu yang lalu, :(
Selamat kembali mengabdi di tanah air Indonesia tercinta ya mba & semangat berda'wah serta menyebar kebaikan disana untuk mba Nana sekeluarga.
Semoga nanti perjalanan pulangnya lancar & selamat sampai tujuan & berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.
Salam ta'ddzim dari kami untuk keluarga besar mba & pak jahar di Indo ya...
O ya, ini ada sedikit oleh2 kaos untuk pak jahar & mainan pesawat untuk Zaky & Alif. mudah2an nanti bisa jadi pilot, he..he..sekaligus perancang pesawat seperti Habibie :)
Wassalamu alaikum wr.wb.
Maemun&Nida
---
From Germany with Love
Liebe mba Nana...semoga barokah, sukses, lancar urusannya.
Dari kami L? NHKKB
---
From Germany with Love
Liebe mba Nana...semoga barokah, sukses, lancar urusannya.
Dari kami L? NHKKB
Ramadhan kali ini merupakan kali ketiga, saya merasakan ramadhan dinegeri orang, dan beberapa tahun belakangan ini, ramadhan bertepatan dengan musim panas, lumayan terik. Ada beberapa keunikan ramadhan di Hannover, dibandingkan dengan ramadhan yang ngangenin di Indonesia.
Penetapan 1 Ramadhan
Selama ini, persoalan penetapan 1 ramadhan tidak menimbulkan perbedaan, biasanya para pengurus pengajian kota merujuk ke Zentralrat der Muslime Deutschland (www.islam.de), dan nanti akan dikonfirmasi saat malam sebelum ramadhan ke pihak masjid, yang juga akan mengumumkan secara resmi. Pihak pengurus pengajian, biasanya mengutus utusan ke beberapa masjid, dan informasi itu akan dirilis secara resmi oleh pengurus pengajian kota kepada masyarakat muslim Indonesia melalui milis dan fb, serta media lainnya.
Waktu
Selama ini, persoalan penetapan 1 ramadhan tidak menimbulkan perbedaan, biasanya para pengurus pengajian kota merujuk ke Zentralrat der Muslime Deutschland (www.islam.de), dan nanti akan dikonfirmasi saat malam sebelum ramadhan ke pihak masjid, yang juga akan mengumumkan secara resmi. Pihak pengurus pengajian, biasanya mengutus utusan ke beberapa masjid, dan informasi itu akan dirilis secara resmi oleh pengurus pengajian kota kepada masyarakat muslim Indonesia melalui milis dan fb, serta media lainnya.
Waktu
Karena beberapa tahun belakangan ini ramadhan bertepatan pada musim panas, implikasinya waktu berpuasa akan semakin panjang, 18 jam lebih, hampir 19 jam. Kami di Hannoverr, sholat shubuh pada pukul 02.42 dan nanti akan berbuka puasa pada 21.43. Jadwal Sholat juga berubah, sholat Dzuhur pukul 13.27, sholat Ashar 17.49. yang berdekatan adalah sholat waktu sholat Isya pada pukul 23.48 dan sholat shubuh pukul 02.52.
Sholat Tarawih
Karena waktu sholat maghrib sudah larut, apalagi sholat Isya. Ada sebagian masjid yang menjama' taqdim sholat magrib dan Isya, jadi setelah adzan, dilanjutkan berbuka, kemudian sholat maghrib, istirahat sebentar dan dilanjutkan sholat Isya, setelah sholat Isya, maka dilanjutkan sholat tarawih. di Masjid Shalaheddin al- ayyubi di dekat dengan rumah saya, sholat tarawihnya 24 rakaat.
Sahur
Ramadhan yang penuh tantangan karena kami akan sahur sekita pukul 02.00, karena pukul 02.52 sudah sholat shubuh. Ini cukup merepotkan bagi pendidikan anak-anak untuk mulai berpuasa, walaupun biasanya pada saat ramadhan ini, anak-anak sudah mulai libur musim panas.
Ramadhan yang penuh tantangan karena kami akan sahur sekita pukul 02.00, karena pukul 02.52 sudah sholat shubuh. Ini cukup merepotkan bagi pendidikan anak-anak untuk mulai berpuasa, walaupun biasanya pada saat ramadhan ini, anak-anak sudah mulai libur musim panas.
Suasana
Ini yang tidak bisa tergantikan dengan suasana di tanah air. Hari ini, satu hari sebelum ramadhan sepertinya denyut kehidupan tidak ada perbedaan dari hari-hari biasanya. Kalau ditanah air, sudah marak iklan sirup, para artis sudah mulai menutup auratnya, masjid-masjid dibersihkan, berbagai macam acara diadakan, makanan untuk ta'ajil dan berbuka sudah dirancang, pasar kaget ramadhan bermunculan. Hal seperti itu tidak terlihat disini.
Yang kami lakukan adalah mengajak masyarakat untuk mengadakan tarhib ramadhan, di acara ini refresh ilmu seputar ramadhan.
Yang lebih menantang, karena saat ini musim panas, maka warga disini sangat suka memakai pakaian yang serba terbatas, dan berjemur dipingir danau, atau sungai. Jadi kalau jalan ke masjid, atau beraktivitas lainnya, maka pemandangan dengan pakaian ala kadarnya susah untuk dihindari.
Yang kami lakukan adalah mengajak masyarakat untuk mengadakan tarhib ramadhan, di acara ini refresh ilmu seputar ramadhan.
Yang lebih menantang, karena saat ini musim panas, maka warga disini sangat suka memakai pakaian yang serba terbatas, dan berjemur dipingir danau, atau sungai. Jadi kalau jalan ke masjid, atau beraktivitas lainnya, maka pemandangan dengan pakaian ala kadarnya susah untuk dihindari.
Ifthar (berbuka)
Cukup banyak masjid mengadakan berbuka puasa, bahkan ada yang melaksanakannya setiap hari, seperti masjid shalaheddin al-eyyubi. Berbuka puasa dilaksanakan dibangunan bawah ruang masjid. Banyak jama'ah hadir, menikmati hidangan yang disediakan. Kalau di masjid Shalaheddin, menu tetapnya adalah sup, ditambah satu menu lainnya. ala menu orang-orang arab.
Komunitas Muslim Hannover (KMH), yang merupakan wadah berkumpulnya masyarakat muslim Indonesia di kota Hannover, rutin setiap pekan mengadakan berbuka puasa di akhir pekan, biasanya bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya, atau ruang serbaguna asrama mahasiswa dan kampus. Acara ini selalu meriah, karena bisa saling shilaturahmi antar warga dan saat yang sama bisa mengobati kangen akan kampung halaman, karena bisa bersua dengan saudara seperantauan, dan tidak kalah pentingnya bisa mengurangi kangen terhadap makanan Indonesia. Biasanya masing-masing membawa makanan Indonesia, sekaligus perbaikan gizi ala mahasiswa.
I'tikaf
Beberapa masjid mengadakan i'tikaf, terutama pada malam-malam ganjil, dan cukup banyak pengunjung yang datang. I'tikaf dirangkai dari sholat tarawih, sholat qiyamulail sampai sahur bersama. Biasanya pihak masjid menyediakan sahur, dengan menu ala arab.
Idul Fitri
Kami diperantauan sangat berharap, idul fitri jatuh pada weekend, karena tidak ada libur saat idul fitri. Jika idul fitri jatuh pada hari kerja, sebagian dari warga ada yang terpaksa tidak bisa ikut sholat idul fitri, karena harus masuk kerja/lab/kuliah. Namun ada juga warga yang mengantisipasinya dengan cara mengajukan cuti, ada juga yang mensiasatinya dengan cara datang dulu ke sholat idul fitri, setelah sholat baru langsung ke tempat beraktivitas.
Beberapa masjid mengadakan i'tikaf, terutama pada malam-malam ganjil, dan cukup banyak pengunjung yang datang. I'tikaf dirangkai dari sholat tarawih, sholat qiyamulail sampai sahur bersama. Biasanya pihak masjid menyediakan sahur, dengan menu ala arab.
Idul Fitri
Kami diperantauan sangat berharap, idul fitri jatuh pada weekend, karena tidak ada libur saat idul fitri. Jika idul fitri jatuh pada hari kerja, sebagian dari warga ada yang terpaksa tidak bisa ikut sholat idul fitri, karena harus masuk kerja/lab/kuliah. Namun ada juga warga yang mengantisipasinya dengan cara mengajukan cuti, ada juga yang mensiasatinya dengan cara datang dulu ke sholat idul fitri, setelah sholat baru langsung ke tempat beraktivitas.
Satu hari sebelum 1 Ramadhan 1434H
Musim panas, Hannover, 8 Juli 2013
Musim panas, Hannover, 8 Juli 2013
Sejak September 2010, kami sekeluarga hijrah untuk menimba ilmu dan pelajaran kehidupan di Hannover, Jerman. Kami beruntung mendapatkan appartemen yang sangat strategis, di pusat kota Hannover, ke central station (Haubbahnhof dan Kropkce) tinggal jalan. Appartemen kami diberi nama Leibnizhaus, sejarahnya dibangunan inilah dulu ilmuan paling terkenal di Hannover, bernama Leibniz tinggal. Nama ilmuan ini pulalah yang diabadikan sebagai nama universitas tertua yang berada di Hannover, yaitu Leibniz Universitaat Hannover.
Hampir semua tempat bersejarah di kota Hannover berada disekeliling Leibnizhaus, seperti Old Rathaus dan New Rathaus yang sangat kokoh, gagah, dilengkapi dengan tamannya yang sangat cantik serta danaunya yang membuat memanjakan mata, Macksee, sebuah danau yang luas dan indah ditaburi ikan yang meliuk-liuk sebesar anak kecil, disampingnya base campnya tim 96 Hannover, salah satu club sepak bola papan atas Jerman, gereja Markirche yang merupakan gereja tertua di Hannover, patung "nanas" simbol kota Hannover, ada sekitar 5 - 7 museum di sekeliling rumah kami, seperti museum sejarah Hannover, persis didepan pintu apparteman kami, cukup melangkah sepuluh langkah sudah sampai di museum tersebut, dan tentunya Leibniz Universitaat Hannover, yang tidak jauh dari rumah kami.
Awal kami datang ke kota Hannover, satu yang agak mengkhawatirkan adalah fasilitas ibadah dan makanan halal. Sebagai seorang muslim ini menjadi pertimbangan mutlak, agar tidak perjuangan di negeri orang bisa dilalui dengan baik, namun alhamdulillah paling tidak ada 28 masjid di kota Hannover, komunitas Islam di Hannover juga relatif banyak, dengan demikian kami tidak kesusahan sama sekali untuk mendapatkan makanan halal dan masjid, tidak jauh dari rumah kami ada 2 masjid, yaitu masjid Kurdi dan masjid Turki, juga untuk makanan halal ke arah kedua masjid tersebut ada beberapa toko Turki yang menjual daging halal dan makanan halal lainnya, bahkan ada sekitar 5 restoran halal yang juga tidak jauh dari rumah kami.
Bayangan Jerman sebagai negara yang susah untuk orang beragama Islam, seiring dengan waktu bisa terkurangi, walaupun tetap saja Islam di Hannover masih minoritas, namun kalau ditinjau dari sisi kacamata Islam sebagai agama minoritas, fasilitas dan penerimaan masyarakat sangat patut disyukuri.
Sebagai fakta, jika anda berdiri di kawasan umum di pusat kota Hannover, seperti Kropcke, maka anda akan dengan mudahnya menemukan perempuan berjilbab, ini pertanda jumlah umat Islam di kota tersebut relatif banyak, jika jumlah umat Islam relatif banyak, maka mengindikasikan fasilitas untuk masyarkat muslim juga tersedia relatif baik. Ini juga bisa anda jadikan salah satu metode survey cepat bagi anda yang mau menetap disuatu kota dimana Islam sebagai minoritas, datanglah ke pusat kotanya saat jam sibuk, amati seberapa banyak perempuan berjilbab di daerah tersebut, jika mudah anda temukan, maka indikasi fasilitas untuk anda sebagai muslim tersedia realitf baik.
![]() |
| Rihlah KMH di Bremen 2012 |
Bagaimanapun Indonesia tetap negara yang membanggakan, We love you full...:). Untuk mengabadikan persahabatan yang terjalin selama di Jerman, serta bagian ucapan terima kasih kami kepada para sahabat sekalian, di blog ini saya tuliskan nama-nama sahabat tersebut, didasarkan kota, dan saya mohooon maaaaf sekali, jika ada nama yang salah huruf, dan yang tertinggal.
Hannover
![]() |
| Lomba Futsal KMH, Mei 2013 |
ex. Hannover
Ustadz Agus Widjanarko, Pak Teguh, bu Yanti, Yumna, Daud, pak Hamdan, bu Ismi, Izza, Haqi, pak Widjo Konko, Rajesh, pak Eko, bu Irma, dan anak-anaknya, akh Rofif Berlin, akh Rafiq Malaysia.
Hamburg
Al-akh Irfan, mbak Senny, Rasyid, Hafsah, Jibran, Roby, mas Prio, mas Danang (ex. Hamburg, sepertinya sekarang sudah di Jakarta), mbak Ova, beserta anak-anak, mas Adam, pak Doni ketua IIC, bu Yanti KIMH, bu Belfas, Fathi, ..dan Jama'ah IIC dan KIMH Hamburg...mohon maaf tidak tersebutkan satu persatu.
![]() |
| Shilaturahmi Kader Dakwah, Mei 2013 |
Goettingen
Pak Ichsan, bu Uji (ex. Goettingen sekarang sudah di Aceh), Rifqi, Hasna, akh Reza, mbak Annisa, dan calon buah hati..(semoga suatu hari bisa bertemu. Amin), mas Afik (sekarang lagi di Jambi), akh Rasi P, beserta keluarga, akh Maimun, akh Ahmad, pak Jaenal Effendi beserta keluarga, kang Iqbal beserta keluarga, mas Doni, mbak Hetty, dan putrinya, mas Adnan beserta istri, Rezki, ...
Ustadz Maemun, ustadzah Nida, pak Bintoro, bu Maryam, Hanan, Fadil, Nayla, Ayla, pak Geri, akh Alan, Jismi, akh Furqan (ex Olderburg, sekarang sudah di Indonesia), akh Faerus Malaysia, pak Firdaus.
Braunschweiger
![]() |
| Workhsop Wirausaha FORKOM, 8 Juni 13 |
Wolfsbug dan Claustal
akh Ahmad Lutfi, Rachmat Haekal (ex. Claustal, sekarang sudah di Aceh/Jakarta), Ikhsan Siddiq, Naufal, Yopi, Yuda,
Berliner
Ustadz Makky, bu Indah, pak Alfaferi, Mbak Ira, Usamah, Caca,?,Thariq Aulia, pak Anis, bu Faerus, dan putri-putrinya, Dimas, Andhika, Yopi, pak Dodi, bu Nur, beserta anak-anak, ustadz Aditya, Moes, Chevy, Karimi, Hudzhaifah,
| Fraunze Berlin |
NRW
Al-akh Arif, bu Irma dan putra putrinya, pak Sri, mbak Tieneke, beserta keluarga, akh Taufiq, mbak Andri, Fathiya, dan si kecil, akh Asep dan istri, akh Ajisaka beserta istri dan putra/inya, mas Sukri Tama, akh Aji, akh Ramadhoni, ...
Dresden dan Praha
Al-akh Andi Sastra, mbak Helda, dan putrinya, akh Roni sekeluarga, akh Akhir.....
Nurnberg
Ustadz Bondan, bu Marfuah, beserta keluarga, pak Indra, bu Fitri beserta keluarga,
akh Nugg, mbak...beserta keluarga, mas Hendro dan mbak Anggi
Frankfurt dan sekitarnya
Frankfurt dan sekitarnya
Lain-lain di Jerman
Uda Har, umi Dedeh, beserta anak-anaknya, pak Bambang di Muenchen, akh Heru di Spayer, akh Pietra,.....
Austria
Akh Acha beserta keluarga, akh Bhakti sekeluarga, akh Catur sekeluarga.
Prancis
Ustadz Elvandi sekelurga, dan akh Haris Mae sekeluarga
Polandia dan Czech
akh Saiful, akh ..., akh Aziz, ...dan teman-teman Malaysia lainya.
Juga kepada para ustadz yang pernah mampir ke rumah kami:
Ustadz Yusni, Ustadz Aqib Malaysia, Ustadz Hartanto Suryono, al-hafidz, Ustadz Dedi Martoni, Ustadz Saifuddin Mustafa, Ustadz Abas Mansur Tamam, Ustadz Muhammad Rofi.
Mohon maaf lahir dan bathin jika ada nama yang tidak tertuliskan, juga jika ada nama yang salah ketik, gelar yang tidak tersebutkan. Bisa jadi ada diantara kita yang pernah ketemu, namun tidak hapal namanya satu persatu. Kami menuliskan ini dengan harapan komunikasi dan shilaturahim tetap terjalin dengan baik. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan suasana yang lebih baik, dan Allah mempertemukan kita semua nanti di Surganya. Amin ya robbil alamin.
Dari ruang tamu, C.3.1 Leibnizhaus, Holzmarkt 4 Hannover, 27 Juni 2013
Kami sekeluarga: Jaharuddin, Radiana D Antarianto, M Dzakwan Alif, M Zaky Taqyudin.
Silakan mampir ke rumah atau kantor kami di Indonesia.
Uda Har, umi Dedeh, beserta anak-anaknya, pak Bambang di Muenchen, akh Heru di Spayer, akh Pietra,.....
Austria
Akh Acha beserta keluarga, akh Bhakti sekeluarga, akh Catur sekeluarga.
| Ruqby di Berlin, yg ditindih pak Anis..:) |
Prancis
Ustadz Elvandi sekelurga, dan akh Haris Mae sekeluarga
| Warsawa, akhir 2011 |
akh Saiful, akh ..., akh Aziz, ...dan teman-teman Malaysia lainya.
Juga kepada para ustadz yang pernah mampir ke rumah kami:
Ustadz Yusni, Ustadz Aqib Malaysia, Ustadz Hartanto Suryono, al-hafidz, Ustadz Dedi Martoni, Ustadz Saifuddin Mustafa, Ustadz Abas Mansur Tamam, Ustadz Muhammad Rofi.
Mohon maaf lahir dan bathin jika ada nama yang tidak tertuliskan, juga jika ada nama yang salah ketik, gelar yang tidak tersebutkan. Bisa jadi ada diantara kita yang pernah ketemu, namun tidak hapal namanya satu persatu. Kami menuliskan ini dengan harapan komunikasi dan shilaturahim tetap terjalin dengan baik. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan suasana yang lebih baik, dan Allah mempertemukan kita semua nanti di Surganya. Amin ya robbil alamin.
Dari ruang tamu, C.3.1 Leibnizhaus, Holzmarkt 4 Hannover, 27 Juni 2013
Kami sekeluarga: Jaharuddin, Radiana D Antarianto, M Dzakwan Alif, M Zaky Taqyudin.
Silakan mampir ke rumah atau kantor kami di Indonesia.
Selama di Hannover, kami tinggal di Leibnizhaus. Leibnizhaus adalah Guest Housenya Leibniz Universitat Hannover. Walaupun istri mengambil S3 di Medizinische Hoschule Hannover (MHH). Keunikan di Hannover, juga sdi Jerman secara umum, Studentenwohnheime (Appartemen Mahasiswa), dikelola secara baik, dari universitas manapun anda, bisa ikut bertarung dalam mendapatkan studentenwohnheime, Jadi walaupun kami bukan civitas akademika di Lebniz Universitat Hannover, namun kami tetap berhak untuk tinggal di Leibnizhaus, karena terdaftar sebagai student di MHH.
Appartemen mahasiswa di Jerman, didesain dan dikelola dengan baik, dan standar fasilitas negara maju, kami mendapatkan appartemen 4 kamar dengan luas 71m2, dengan sewa 772,11 euro setiap bulannya. Sewa ini sudah termasuk appartemen full furniture, loundry, listrik, internet, termasuk perlengkapan memasak, piring, gelas, panci, wajan, dan semuanya sudah lengkap termasuk handuk, tinggal bawa pakaian dan buku. Kami mendapatkan appartemen di Tower C lantai 3 appartemen No.1 (C.3.1). Kami bertetangga dengan keluarga Sheresta seorang dokter specialis dari Nepal di MHH. Pada gambar, tower C adalah paling kanan, persis disamping Museum sejarah Hannover.
Leibnizhaus berada pada posisi yang sangat strategis, karena berada di pusat kota, bagian depan Leibnizhaus langsung pertokoan dan restoran, tidak jauh dari sini, juga terdapat central station baik antar kota (hbf) maupun dalam kota (Kropcke)
Di belakang appartemen kami inilah, sungai Leine berada, kalau dilihat dari maket kerajaan Hannover dulu kala, maka sungai Leine adalah pusat kerajaan Hannover, dengan bukti 100m kearah depan Leibnizhaus terdapat gereja terbesar dan tertua di Hannover, disampingnya terdapat alt rathaus (kantor walikota yang lama), dan new rathaus juga tidak jauh dari Leibnizhaus.
Kerajaan Hannover dulu kala, dikelilingi pagar, persis disamping pagar tersebut ada sungai. Apakah alami atau tidak saya tidak tahu persis, dugaan saya sebagiannya adalah sungai buatan, dan bisa jadi inspirasinya dari sejarah Rasulullah di perang Khandag (parit). Sungai (parit) digunakan untuk menghambat gerakan musuh, baik tentara maupun hewan buas.
Appartemen mahasiswa di Jerman, didesain dan dikelola dengan baik, dan standar fasilitas negara maju, kami mendapatkan appartemen 4 kamar dengan luas 71m2, dengan sewa 772,11 euro setiap bulannya. Sewa ini sudah termasuk appartemen full furniture, loundry, listrik, internet, termasuk perlengkapan memasak, piring, gelas, panci, wajan, dan semuanya sudah lengkap termasuk handuk, tinggal bawa pakaian dan buku. Kami mendapatkan appartemen di Tower C lantai 3 appartemen No.1 (C.3.1). Kami bertetangga dengan keluarga Sheresta seorang dokter specialis dari Nepal di MHH. Pada gambar, tower C adalah paling kanan, persis disamping Museum sejarah Hannover.Leibnizhaus berada pada posisi yang sangat strategis, karena berada di pusat kota, bagian depan Leibnizhaus langsung pertokoan dan restoran, tidak jauh dari sini, juga terdapat central station baik antar kota (hbf) maupun dalam kota (Kropcke)
Di belakang appartemen kami inilah, sungai Leine berada, kalau dilihat dari maket kerajaan Hannover dulu kala, maka sungai Leine adalah pusat kerajaan Hannover, dengan bukti 100m kearah depan Leibnizhaus terdapat gereja terbesar dan tertua di Hannover, disampingnya terdapat alt rathaus (kantor walikota yang lama), dan new rathaus juga tidak jauh dari Leibnizhaus.
Kerajaan Hannover dulu kala, dikelilingi pagar, persis disamping pagar tersebut ada sungai. Apakah alami atau tidak saya tidak tahu persis, dugaan saya sebagiannya adalah sungai buatan, dan bisa jadi inspirasinya dari sejarah Rasulullah di perang Khandag (parit). Sungai (parit) digunakan untuk menghambat gerakan musuh, baik tentara maupun hewan buas.
Saat saya sekeluarga ke Nurnberg, saya juga menemukan hal yang sama. Di kota tua Nurnberg, sampai sekarang masih terlihat dengan jelas, kota tuanya di kelilingi sungai, bahkan sampai sekarang bekas sungai tersebut , walaupun sudah kering, masih ada, berbentuk sungai.
Sungai Leine, memberikan banyak arti dalam perjalanan keluarga kami selama di Hannover. Hampir setiap pagi kami menyapa sungai ini, dengan berjalan ditepiannya, untuk mengantarkan Alif dan Zaky ke sekolah. mau ke masjid Kurdi dan Turki, mau membeli daging dan makanan halal ke Lale Markt, ke Saray, juga melewati sisi sungai Leine. Kalau weekend, jika mau jalan-jalan ke Rathaus, Machse, jika mau ke Uni Hannover, mau ke International Office, mau pengajian dan Grillen di Lodyweg, bahkan patung nanas yang menjadi simbol kota Hannover, juga berada di tepian sungai Leine ini.
Adakalanya jika capek, jenuh, butuh refresh, atau tilawah al-Qur'an saya juga duduk dipingir sungai ini. Sungai ini juga dijadikan tempat bersampan, pada saat musim semi dan musim panas, dijadikan tempat berkumpulnya orang-orang pada weekend dan sore hari. Melalui tepian sungai Leine ini, saya juga bisa melihat dan mengamati budaya masyarakat yang juga memanfaatkan sungai Leine ini untuk tempat merenung...:).
Alif dan Zaky juga belajar bersepeda di pingir sungai ini. Dua kali musim panas yang lalu, ditengah-tengah sungai Leine ini dibuat restoran terapung, namun ngak tahu musim panas kali ini tidak ada.
Kalau hari sabtu, disekeliling sungai Leine, ada Flohmarkt (pedagang barang bekas berkualitas) dan kalau musim panas,ramai sekali.
Musim Panas, Hannover, 27 Juni 2013
Asuransi kesehatan untuk keluarga adalah salah satu persyaratan
untuk memperoleh visa kumpul keluarga di Jerman. Kami mendaftar ke
asuransi kesehatan publik (di Indonesia seperti Askes) dibantu oleh
koordinator program studi. Kartu asuransi (dilengkapi dengan
chip) layaknya kartu debit, yang tinggal digesek oleh perawat yang
sekaligus berperan sebagai petugas administrasi klinik atau petugas
administrasi rumah sakit setelah kita berobat.
Sebelum berobat ke dokter anak di klinik, kita perlu membuat
termin (jadwal) terlebih dulu lewat telpon. Perawat yang menerima telpon
akan menanyakan nama anak, usia anak, asuransi kesehatan (nomor kartu
asuransi) dan keluhan utama.
Kali pertama anak kami berobat karena demam tinggi, muntah dan
diare selama dua hari. Perawat tersebut menyatakan jadwal kami adalah
satu minggu lagi. Ini membuat kami terperangah, seminggu lagi... kondisi anak
saat itu sudah lemas, tidak nafsu makan dan hampir tiap kali minum
kembali muntah-muntah. Khawatir sekali terjadi dehidrasi serius selama
menunggu jadwal berobat. Meski sudah dijelaskan kondisinya, perawat
hanya berujar kalau memang darurat bisa dibawa ke IGD rumah sakit anak,
lalu disebutkannya alamat rumah sakit anak tersebut. Akhirnya kami
memutuskan untuk menunggu termin ke dokter anak di klinik itu dengan
tetap waspada bila memang perlu membawanya ke IGD. Sementara itu kami
memberi obat sirup penurun panas (ibuprofen), memberi makanan lunak dan
minuman sesering mungkin, prinsipnya menjaga status hidrasi anak tetap
baik . 3 hari kemudian kondisi anak kami, Alhamdulillah membaik.
Demamnya turun dan nafsu makannya berangsur kembali pulih. Bisa
dikatakan saat memenuhi termin ke dokter anak, kondisi anak kami sudah
tidak ada tanda-tanda sakitnya.
Klinik dokter anak tersebut adalah praktek bersama konsulen bedah
anak, jantung, endokrinologi anak dan dokter anak umum. Dokter anak kami
bidangnya adalah pediatri sosial, dia bekerja di SPZ(Centre for Social
Pediatric) rumah sakit anak milik pemerintah kota dan hanya satu hari
dalam seminggu praktek sebagai dokter anak umum di klinik tersebut.
Lokasi klinik berada di pusat kota, di lantai 3 dari bangunan yang
lantai 1-nya tersambung ke apotik, lantai 2 terdapat praktek dokter THT.
Ruang praktek dokter anak cukup apik, di dekat jendela ada banyak
mainan anak-anak, wall papernya teddy bear membawa balon dengan
warna-warna lucu, beberapa pajangan dinding di antaranya grafik tumbuh
kembang anak dan gambar-gambar kartun. Tempat tidur periksa dilapisi
kertas tissue khusus sepanjang bed pemeriksaan (disposable dan bisa
digulung), meja dokter dilengkapi komputer dan alat-alat pemeriksaan.
Dokter anak kami orang Jerman namun bersedia untuk berbahasa Inggris,
melakukan wawancara medis (anamnesis) dan mengetikkan riwayat penyakit
anak di form yang sudah terprogram di komputernya. Dokter anak
juga menanyakan sertifikat imunisasi (semacam kartu yang berisi jadwal
imunisasi dan tanggal dilakukannya imunisasi) karena kami tidak
membawanya maka dia menyampaikan agar dalam pertemuan berikutnya dibawa
namun dia tetap menanyakan imunisasi apa saja yang telah diterima anak
kami dan mengetiknya di form komputer. Ini penting untuk para ibu yang
akan membawa buah hatinya untuk tinggal di luar negeri dalam jangka
waktu relatif lama agar membawa buku kesehatan anak (buku pemeriksaan
dokter anak mulai dari riwayat kelahiran, imunisasi, kunjungan ke dokter
anak, dll). Terus terang, kami baru merasakan pentingnya membawa buku
itu setelah datang dan berobat ke dokter anak di sini. Pemeriksaan
dilakukan dengan seksama, sesuai SOP dari ujung kepala hingga kaki.
Lalu, dia menjelaskan diagnosa penyakitnya, viral diarrhea yang
kemungkinan besar ditularkan oleh teman di TKnya. Tanya jawab pun
berlangsung dengan ramah. Latar belakang profesi yang sama membuatnya
semakin bersahabat. Dokter hanya meresepkan semacam oralit (sachet) untuk
diberikan setelah diare atau muntah. Untuk menebus resep obat, kembali
kami hanya menunjukkan kartu asuransi kepada apoteker, dia mengetikkan
nomor kartu asuransi ke komputer untuk pembayaran dan kami tidak perlu
membayar lagi. Karena anak kami sudah tidak muntah atau diare lagi, maka
kami pun menyimpan saja oralit tersebut.
Kami pernah membawa anak kami yang kedua ke IGD rumah sakit kampus.
Ketika itu hari Jum'at dan malam sebelumnya anak kami mengalami kejang
demam. Mendaftarkan anak untuk berobat di IGD sempat berdebat dulu
dengan petugas administrasi IGD. Dia menyatakan agar kami membawa anak
kami ke dokter anak saja, namun kami berargumen kalau mesti membuat
termin dan menunggu lagi tidak efektif untuk terapi kejang demamnya.
Akhirnya pendaftaran kami pun diterima. Setelah menunggu hampir 2 jam di
ruang tunggu IGD, kami masuk ke kamar pemeriksaan. Suasana di kamar
pemeriksaan IGD anak memang kaku, standar IGD. Tempat tidur pasien
dilengkapi monitor untuk memantau tanda vital, alat-alat resusitasi,
meja periksa dokter dipenuhi alat-alat pemeriksaan, tidak ada dekorasi
yang ramah untuk anak-anak. Anak kami pun hanya memeluk erat dan hampir
tidak mau diperiksa sambil tiduran di tempat tidur pasien. Dokter yang
memeriksa muda sekali, dugaan saya residen anak di rumah sakit kampus.
Setelah memeriksa, dia pamit sebentar untuk berdiskusi dengan chef artz
(barangkali setara dengan chief resident atau konsulen jaga) kemudian
kembali dengan menuliskan resep obat suppositoria untuk mengatasi demam
dan obat sirup untuk mengatasi kejang anak kami. Ada lembar informasi
yang diberikan kepada kami tentang kejang demam (dalam bahasa Jerman),
sampai di rumah kami pun menterjemahkan sendiri lembaran informasi
tersebut lewat bantuan google translate. Isinya edukasi apa itu kejang
demam, kenapa terjadi kejang demam, apa yang sebaiknya dilakukan saat
anak kejang demam dan kapan kejang demam tersebut memerlukan pemeriksaan
lebih lanjut. Alhamdulillah anak kami tidak mengalami kejang demam lagi
setelah itu.
Dari pemerintah kota, ada pemeriksaan kesehatan rutin anak secara
berkala. Anak-anak kami melalui pemeriksaan untuk mengetes kematangan
psikososial saat akan masuk Grundschule(sekolah dasar/SD). Ada surat
panggilan dari pediatri sosial pemerintah kota yang isinya menjelaskan
bahwa anak kami yang berusia hampir 6 tahun akan diperiksa tumbuh
kembang ke klinik pediatri sosial milik pemerintah kota untuk mengetes
apakah cukup matang untuk bersekolah atau tidak. Kami tinggal membawa
surat panggilan tersebut dan kartu asuransi kesehatan ke klinik pediatri
sosial. Anak kami yang pertama baru 6 bulan di Jerman saat menjalani
pemeriksaan tersebut. Kosa kata Jerman yang dimilikinya masih terbatas,
dengan kemampuan bahasa Jerman seadanya kami pun beberapa kali meminta
dokter pemeriksa untuk mengulang perintah atau memperagakan apa yang
mesti dilakukan anak kami. Dites pendengaran, visual, mengenali bentuk,
huruf, angka, menyebutkan nama benda (ini tidak bisa dinilai karena kosa
kata masih terbatas), menceritakan kembali berdasarkan gambar yang
dilihatnya, tes fisik (keseimbangan, melompat dengan satu kaki, berjalan
di garis lurus). Dua hari kemudian hasil pemeriksaan dikirim via
pos, Alhamdulillah saat itu dinyatakan Alif lulus dan bisa masuk
Grundschule milik pemerintah kota yang letaknya tak jauh dari tempat
kami tinggal.
Sekali waktu, anak kami yang kedua terjatuh saat senam di TKnya,
dua gigi depannya copot karena posisi jatuh ke lantai membentur rahang
atasnya. Saya yang saat itu berada di kampus ditelpon oleh guru TKnya
dan segera menjemput anak kami. Kami langsung bawa ke rumah sakit gigi
dan mulut kampus untuk pemeriksaan lebih lanjut karena khawatir dampak
benturan terhadap rahang atas (ada patah atau tidak). Darah masih
mengalir dari bekas tempat copotnya kedua gigi seri. Saat itu sudah
sore, praktek dokter gigi umum sudah tutup. Kami diminta menunggu untuk
praktek dokter residen sore yang sekaligus unit IGD rumah sakit gigi dan
mulut kampus. Suami dan anak pertama datang menyusul. Kami menunggu
satu jam. Dokter residen bedah mulut yang menangani sangat baik dan
ramah, dia mengusulkan pemeriksaan rontgen namun kami menyatakan bahwa
anak kami ini belum pernah dirontgen sebelumnya. Dia menghubungi kolega
seniornya yang datang memeriksa rahang atas anak kami dan menyatakan
bahwa dari pemeriksaan klinis tidak ada tanda-tanda fraktur, namun dia
menyarankan agar anak kami disuntik tetanus karena luka menganga di
bekas tempat copot kedua gigi serinya bisa menjadi sumber infeksi
tetanus. Kembali kami ditanya riwayat imunisasi terutama tetanus dan
sertifikat imunisasi. Karena sudah lama sekali sejak imunisasi DPT
terakhir, maka anak kami disarankan untuk ke IGD kampus dan minta
diinjeksi TT selain itu juga disarankan untuk kontrol ulang ke praktek
dokter gigi umum seminggu kemudian. IGD kampus penuh dengan
pasien-pasien kecelakan lalu lintas, ada pula pasien usia lanjut dengan
kateter, infus, yang sedang menunggu pelayanan. Mereka dibawa oleh
petugas ambulans. Mengantri di pendaftaran IGD cukup lama, kemudian oleh
petugas administrasi dialihkan ke perawat IGD. Perawat IGD menanyakan
ke dokter jaga apakah bisa ditangani di IGD, tak lama kemudian perawat
datang dan menjelaskan bahwa sebaiknya anak kami besok dibawa ke dokter
anak karena menurut mereka penanganan dokter anak akan lebih
komprehensif dan bisa mendapatkan imunisasi kombinasi tak sekedar TT.
Maka, keesokan harinya kami meminta ke klinik dokter anak agar bisa
mendapat termin hari itu juga untuk imunisasi, kali ini kami mendapat
termin meski hanya 15 menit.
Ada beberapa pengalaman lagi membawa anak kedua kami berobat. Saat
winter tahun kedua, anak kami sempat mengalami radang paru-paru(viral
penumonia) akut. Kami pun membawa anak kami ke IGD anak di kampus,
dirontgen, diresepkan obat dan dia mesti tirah baring total selama 2
minggu di rumah. Kami pernah membawa anak kedua kami ke SPZ untuk
evaluasi lanjutan tumbuh kembangnya karena hasil pemeriksaan pertama di
pediatri sosial kota merekomendasikan untuk evaluasi lanjutan di SPZ.
Semua layanan pengobatan ini kami peroleh hanya dengan menunjukkan kartu
asuransi publik kami.
Setelah satu setengah tahun memiliki kartu asuransi publik,
ada kendala administratif (usia di atas 28 tahun dan status sebagai
mahasiswa bukan sebagai pegawai) yang membuat kami beralih ke asuransi
privat. Peralihan ini membuat kami berhitung sekali kalau ingin berobat.
Tiap bulan kami membayar premi bulanan sebesar 40 euro per anak dan 70
euro per orang dewasa. Tiga bulan pertama, kami tidak bisa melakukan
klaim bila berobat (disebut masa tunggu). Bulan keempat, kami membawa
anak kami berobat, kami harus membayar tunai jasa pemeriksaan dokter dan
tes-tes yang dilakukan. Juga harus membayar obat yang diresepkan
dokter di apotik. Satu kali berobat kami bisa membayar lebih dari 100
euro. Dan ketika kami klaim ke perusahaan asuransi, klaim-klaim
kami ditolak dengan alasan yang sifatnya sangat administratif (mesti
menyertakan kwitansi asli/tidak boleh foto kopi, sudah lewat tanggal
klaim, persentase pengali untuk jasa medis dan pemeriksaan terlalu
tinggi, dll). Memang, untuk pemegang asuransi privat dikenakan biaya
jasa medis, pemeriksaan, dan obat-obatan yang lebih tinggi persentase
pengalinya dibandingkan asuransi publik. Masing-masing perusahaan
asuransi privat memiliki batas persentase pengali sendiri untuk klaim
asuransi dan ini belum kami sadari sebelumnya. Penting sekali untuk
memperhatikan point-point di kontrak asuransi kesehatan privat.
Asuransi kesehatan sifatnya wajib di Jerman juga
merupakan persyaratan untuk memperpanjang visa ijin tinggal ke kantor
imigrasi setempat. Oleh karenanya, kami tetap mempertahankan asuransi
kesehatan privat kami yang perlindungannya penting untuk kondisi darurat
atau emergency.
Dari beberapa sahabat dosen yang studi di sini, ada beberapa
pengalaman lain untuk menyiasati berobat ke dokter anak bagi pemegang
asuransi privat. Seperti menitip lewat teman-teman Indonesia yang pulang
agar dibelikan obat-obat yang lazim dipakai anaknya bila jatuh sakit
atau minta resep obat kadang juga obatnya langsung ke profesor di
institut yang berpraktek sebagai dokter.
Kesimpulan untuk para bunda yang akan membawa buah hatinya tinggal di luar negeri:
1. Mengenal sistem asuransi kesehatan di negara tersebut. Di
Jerman, idealnya memiliki asuransi publik. Asuransi privat lebih mahal
dan tidak senyaman asuransi publik. Sebelum menanda tangani kontrak
asuransi kesehatan privat agar membaca point-point di kontrak dan
bertanya lebih jauh tentang klaim asuransi, prosedurnya bagaimana.
2. Membawa buku kesehatan/tumbuh kembang anak dengan riwayat imunisasinya. Ini rutin ditanyakan oleh dokter anak.
3. Kendala bahasa bukanlah alasan untuk menghindari berobat ke
dokter di negara tersebut. Umumnya dokter-dokter yang melayani pasien
dari luar negeri akan lebih ramah dan terbuka untuk menjelaskan ke orang
tua pasien.
4. Sistem referensi/rujukan berlaku dengan baik di luar negeri.
Jadi, setiap anak mesti memiliki dokter anak umum sendiri. Informasi ini
juga ditanyakan saat pendaftaran anak masuk TK atau SD (sekolah). Mesti
sabar dengan sistem rujukan ini, artinya ke dokter anak ya mesti sabar
dengan termin/ jadwal yang diberi.
5. Upaya pemeriksaan kesehatan/tumbuh kembang dari pemerintah kota.
Ini yang patut dicontoh, ada klinik pediatri sosial kota yang secara
administratif berhubungan dengan kantor imigrasi untuk mendata anak-anak
luar negeri yang sudah masuk usia wajib sekolah untuk diperiksa
kematangan psikososialnya untuk masuk sekolah. Hasil pemeriksaannya pun
langsung dikirim ke pemerintah kota dan SD yang ditunjuk (secara
geografis letaknya dekat dengan tempat tinggal).
Semoga bermanfaat
dr. Radiana D Antarianto, M.Biomed (Kandidat PhD dari Medizinische Hoschule Hannover)
Assalamu alaikum wr.wb.
Ba'da tahmid wa shalawat.
Semoga ustadz selalu sehat, dan dimudahkan dalam urusan kebajikan.amin.
O, ya sebelum lupa, saya sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin, ngak lama lagi ramadhan nih ustadz.
Afwan nih ustadz, Saya dapat pertanyaan dari masyarakat, dan pertanyaan tersebut, juga menjadi pertanyaan saya pribadi, dan saat ini sedang kita diskusikan di Jerman, seputar menjama sholat maghrib dan Isya pada saat Summer sekarang ini, karena waktunya sudah larut. Sholat Maghrib saat ini pk 21.20 dan sholat Isya pkl 23.15. sementara sholat shubuh sudah masuk pkl 03.09. Kondisi ini cukup merepotkan, apalagi untuk anak-anak yang besok paginya sekolah.
Nah, dikalangan orang arab dan Turki, ada edaran, yg intinya sholat maghrib dan Isya bisa di jama', setelah kita diskusikan, ada juga yg bilang, niatnya tidak di jama.
Hal yang sama juga terjadi saat musim dingin, dzhuhur dan ashar waktunya sangat berdekatan dan sempit, padahal itu waktu aktif bekerja.
nah yang menjadi pertanyaan:
1. Apakah boleh menjama sholat maghrib dan isya pada musim summer, serta dzuhur dan ashar pada musim dingin?
2. Apakah niatnya menjama'a atau bagaimana?
3. Kalau dibolehkan bisa dishare ke kami dalil-dalinya ustadz, karena ini menjadi pertanyaan masyarakat.
4. Jika ternyata bisa dijama'/digabung, kapan waktu mulainya (misalnya adakah tanggal yg specifik)
5. Bagaimana dengan anak-anak, kalaupun tidak boleh (asumsi), apakah untuk pembelajaran bisa digabung sholat maghrib dan Isya?
6. Untuk ramadhan nantinya, kami dapat kabar,. ada masjid yg mempraktekkan, sholat magrib , ifthar, serta istirahat , kemudian sholat isya dan Tarawih, sebelum waktu resminya,
intinya, pertanyaan kami ustadz,
mohon penjelasan seputar jama' sholat tersebut, disertai dalil-dalilnya.
mohon maaf, jika merepotkan ustadz.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Jaharuddin di Hannover, 28 Mei 2013
Jawaban Dr. Abas Mansur Tamam MA (Seorang Ustadz, Lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Tahun 2012 pernah mengunjungi beberapa kota di Jerman dan eropa)
Ba'da tahmid wa shalawat.
Semoga ustadz selalu sehat, dan dimudahkan dalam urusan kebajikan.amin.
O, ya sebelum lupa, saya sekeluarga mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin, ngak lama lagi ramadhan nih ustadz.
Afwan nih ustadz, Saya dapat pertanyaan dari masyarakat, dan pertanyaan tersebut, juga menjadi pertanyaan saya pribadi, dan saat ini sedang kita diskusikan di Jerman, seputar menjama sholat maghrib dan Isya pada saat Summer sekarang ini, karena waktunya sudah larut. Sholat Maghrib saat ini pk 21.20 dan sholat Isya pkl 23.15. sementara sholat shubuh sudah masuk pkl 03.09. Kondisi ini cukup merepotkan, apalagi untuk anak-anak yang besok paginya sekolah.
Nah, dikalangan orang arab dan Turki, ada edaran, yg intinya sholat maghrib dan Isya bisa di jama', setelah kita diskusikan, ada juga yg bilang, niatnya tidak di jama.
Hal yang sama juga terjadi saat musim dingin, dzhuhur dan ashar waktunya sangat berdekatan dan sempit, padahal itu waktu aktif bekerja.
nah yang menjadi pertanyaan:
1. Apakah boleh menjama sholat maghrib dan isya pada musim summer, serta dzuhur dan ashar pada musim dingin?
2. Apakah niatnya menjama'a atau bagaimana?
3. Kalau dibolehkan bisa dishare ke kami dalil-dalinya ustadz, karena ini menjadi pertanyaan masyarakat.
4. Jika ternyata bisa dijama'/digabung, kapan waktu mulainya (misalnya adakah tanggal yg specifik)
5. Bagaimana dengan anak-anak, kalaupun tidak boleh (asumsi), apakah untuk pembelajaran bisa digabung sholat maghrib dan Isya?
6. Untuk ramadhan nantinya, kami dapat kabar,. ada masjid yg mempraktekkan, sholat magrib , ifthar, serta istirahat , kemudian sholat isya dan Tarawih, sebelum waktu resminya,
intinya, pertanyaan kami ustadz,
mohon penjelasan seputar jama' sholat tersebut, disertai dalil-dalilnya.
mohon maaf, jika merepotkan ustadz.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Jaharuddin di Hannover, 28 Mei 2013
Jawaban Dr. Abas Mansur Tamam MA (Seorang Ustadz, Lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Tahun 2012 pernah mengunjungi beberapa kota di Jerman dan eropa)
Waalaikumsalam..
Semoga antum dan keluarga, serta teman-teman di Hannover baik-baik.
Masalah fiqih yang antum tanyakan sudah dibahas oleh Majlis Fatwa Eropa di Cologne, Jerman (22 Mei 1999). Fatwa Majlis itu sama dengan fatwa Syeikh Yusuf Qardhawi.
Bahwa pada musim panas, diperbolehkan untuk menjama taqdim antara shalat magrib dan shalat isya. Atau menjama antara shalat dzuhur dan ashar baik jama taqdim atau jama takhir, pada musim dingin.
Kedua fatwa itu bersandar kepada hadits Nabi Saw.:
عن بن عَبَّاسٍ قال: (جَمَعَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بين الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، بِالْمَدِينَةِ، في غَيْرِ خَوْفٍ ولا مَطَرٍ، في حديث وَكِيعٍ قال قلت لابن عَبَّاسٍ: لِمَ فَعَلَ ذلك؟ قال: كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ. وفي حديث أبي مُعَاوِيَةَ قِيلَ لابن عَبَّاسٍ: ما أَرَادَ إلى ذلك؟ قال: أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ) (صحيح مسلم 1/705)
Ibn Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw. menjama antara dzhur dan ashar, magrib dan isya di Madinah. Tidak disebabkan karena khauf (takut/dalam kondisi perang) tidak juga karena hujan”. Dalam riwayat Waqi: aku bertanya kepada Ibn Abbas: mengapa Rasulullah melakukan itu? Beliau menjawab: supaya tidak menyulitkan umatnya. Dalam riwayat Abu Muawiyah, ada seseorang yang bertanya kepada Ibn Abbas: apa maksud Rasulullah Saw. melakukan itu? Beliau menjawab: Nabi menginginkan supaya tidak menyulitkan umatnya (Shaheh Muslim, vol. 1, no. 705).
Dalam hadits ini, Rasulullah Saw. seolah mengetahui akan ada kondisi sulit seperti yang dialami oleh umat Islam di Eropa, untuk bisa menunaikan shalat dzuhur dan ashar, atau magrib dan isya, sebagaimana lazimnya. Dalam kondisi yang sulit ini, diperbolehkan untuk menjama shalat, sama dengan kebolehan ketika melakukan safar (perjalanan).
Alasan mengapa Nabi Saw. menjama kedua shalat itu (dzuhur dan ashar, atau magrib dan isya) jelas untuk menghilangkan kesulitan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Kaidahnya, kesulitan mendatangkan keringanan. Hal itu seperti disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini:
مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ (المائدة: 6)
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu” (al-Maidah: 6)
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (الحج: 78)
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (al-Hajj: 78).
Dengan demikian:
1. Boleh menjama takdim shalat maghrib dan isya pada musim panas, atau dzhur dan ashar pada musim dingin, baik jama takdim atau takhir.
2. Niatnya jelas niat jama’.
3. Kapan waktu mulainya? Sejauh ini, belum ada komentar para ulama yang terlacak tentang bulan apa dan tanggal berapa baik musim panas atau musim dingin yang diperbolehkan menjama’ seperti disebutkan di atas. Intinya, kapan kesulitan dalam menunaikan shalat pada waktunya itu dirasakan betul (bukan kondisi malas).
4. Tentu berlaku untuk pendidikan terhadap anak-anak. Bahkan Syeikh Yusuf Qardhawi membolehkan menjama’, jika mahasiswa dalam kondisi tertentu seperti karena perkuliahan, di laboratorium, atau dokter yang sedang dalam praktek, dan tidak memungkinkan meninggalkan pekerjaan itu. Karena Imam Ahmad dan Ibn Sirin pernah berfatwa, boleh menjama dua shalat, disebabkan karena kesulitan atau keperluan tertentu.
5. Jika isya sudah dijama takdim (dengan maghrib), maka otomatis setelah selesai isya diperbolehkan untuk menunaikan shalat tarawih.
Demikian yang bisa ana jelaskan dari pertanyaan antum..wallahu a’lam..
Akhukum..
Abas Mansur Tamam
---------
SHALAT JAMA' MAGHRIB & ISYA' DI JERMAN
Pada tanggal 18 Mei s.d. 8 Agustus secara umum diperbolehkan menjama' Maghrib dan Isya' di Jerman. Jama' artinya begitu shalat yang pertama selesai, maka diikuti oleh shalat yang kedua dengan tanpa jeda waktu.
Alasan: sulitnya memastikan waktu Isya' di Jerman (yakni posisi matahari 18° di bawah horison).
SHALAT TARAWIH
Dalam dokumen tsb. ada 3 alternatif:
1. Begitu masuk maghrib, maka dilakukan iftar (makan dan minum). 1 jam atau 1,5 jam kemudian maka dilaksanakan shalat maghrib, lalu dijama' isya', lalu Tarawih.
2. Begitu masuk maghrib maka dilakukan shalat maghrib, setelah itu ifthar (makan+minum). 1 jam atau 1,5 jam kemudian baru isya'+tarawih.
Maka praktik ini sebenarnya juga menjama' shalat namun dengan diselingi jeda waktu (pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim).
3. Masjid yang tidak melakukan shalat jama' maghrib+isya', disarankan utk mengikuti jadwal daerah latitude (Breitengrad) 45°.
IQAMAH SHALAT SHUBUH
Iqamah disarankan untuk diakhirkan, supaya mempermudah orang datang ke masjid.
Kemudian disebutkan dalam fatwa tsb. bahwa dalam hal2 seperti ini biasa ada perbedaan pendapat. Yang dikedepankan adalah sikap toleran. Oleh karena itu silahkan saja jika mengikuti perhitungan atau pendapat lain yang ada, yang dengan pendapat yang lain tsb. manusia bisa melaksanakan shalat dengan mudah (tidak sulit) dan dengan tidak terpaksa.
Insitusi tsb. menyeru kpd masjid2 di Jerman utk mampu bersepakat menyusun jadwal shalat setahun yang seragam (dengan tetap memperhitungkan perbedaan waktu antar regional di jerman).
Demikian terjemahnya, semoga bermanfaat.
===================
Tambahan dari saya: daerah 45° contohnya: Perancis bagian selatan, Italia (Turin, Milan, Venesia), Kroatia. Bandingkan: jerman paling selatan 47°. Jerman utara misalnya Hamburg pada posisi 53°.
Saya pribadi, selama ini memang belum pernah mengetahui detail penentuan shalat isya' di masjid Turki atau masjid islamic center nürnberg, 2 buah masjid yang saya shalat berjamaah di sana.
Contoh jadwal hari Selasa 16 Juli:
Masjid Turki: maghrib 21:23 isya 22:53
Masjid Islamic Center: maghrib 21:17 isya 22:47
Kalau diperiksa jadwal tiap harinya di bulan Juli ini: maka antara maghrib dan isya' bedanya selalu konstant = 1,5 jam. Apakah ini berarti waktu isya' di 2 masjid tsb. berdasarkan pendapat 1,5 jam jarak maghrib dan isya'? Jadi sebenarnya tidak menentukan isya' dengan posisi matahari, namun lebih pada waktu maghrib + 1,5 jam ? Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan oleh ke 2 masjid ini adalah opsi tarawih no. 2 yakni: maghrib on-time. Lalu makan minum, kemudian 1,5 jam kemudian shalat isya'. Maka seandainya waktu isya'nya belum masuk (menurut ukuran posisi matahari), berarti kami melakukan shalat jama' maghrib isya' dengan jeda 1,5 jam.
Semoga antum dan keluarga, serta teman-teman di Hannover baik-baik.
Masalah fiqih yang antum tanyakan sudah dibahas oleh Majlis Fatwa Eropa di Cologne, Jerman (22 Mei 1999). Fatwa Majlis itu sama dengan fatwa Syeikh Yusuf Qardhawi.
Bahwa pada musim panas, diperbolehkan untuk menjama taqdim antara shalat magrib dan shalat isya. Atau menjama antara shalat dzuhur dan ashar baik jama taqdim atau jama takhir, pada musim dingin.
Kedua fatwa itu bersandar kepada hadits Nabi Saw.:
عن بن عَبَّاسٍ قال: (جَمَعَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بين الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، بِالْمَدِينَةِ، في غَيْرِ خَوْفٍ ولا مَطَرٍ، في حديث وَكِيعٍ قال قلت لابن عَبَّاسٍ: لِمَ فَعَلَ ذلك؟ قال: كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ. وفي حديث أبي مُعَاوِيَةَ قِيلَ لابن عَبَّاسٍ: ما أَرَادَ إلى ذلك؟ قال: أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ) (صحيح مسلم 1/705)
Ibn Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw. menjama antara dzhur dan ashar, magrib dan isya di Madinah. Tidak disebabkan karena khauf (takut/dalam kondisi perang) tidak juga karena hujan”. Dalam riwayat Waqi: aku bertanya kepada Ibn Abbas: mengapa Rasulullah melakukan itu? Beliau menjawab: supaya tidak menyulitkan umatnya. Dalam riwayat Abu Muawiyah, ada seseorang yang bertanya kepada Ibn Abbas: apa maksud Rasulullah Saw. melakukan itu? Beliau menjawab: Nabi menginginkan supaya tidak menyulitkan umatnya (Shaheh Muslim, vol. 1, no. 705).
Dalam hadits ini, Rasulullah Saw. seolah mengetahui akan ada kondisi sulit seperti yang dialami oleh umat Islam di Eropa, untuk bisa menunaikan shalat dzuhur dan ashar, atau magrib dan isya, sebagaimana lazimnya. Dalam kondisi yang sulit ini, diperbolehkan untuk menjama shalat, sama dengan kebolehan ketika melakukan safar (perjalanan).
Alasan mengapa Nabi Saw. menjama kedua shalat itu (dzuhur dan ashar, atau magrib dan isya) jelas untuk menghilangkan kesulitan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Kaidahnya, kesulitan mendatangkan keringanan. Hal itu seperti disebutkan dalam ayat-ayat berikut ini:
مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ (المائدة: 6)
“Allah tidak hendak menyulitkan kamu” (al-Maidah: 6)
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ (الحج: 78)
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (al-Hajj: 78).
Dengan demikian:
1. Boleh menjama takdim shalat maghrib dan isya pada musim panas, atau dzhur dan ashar pada musim dingin, baik jama takdim atau takhir.
2. Niatnya jelas niat jama’.
3. Kapan waktu mulainya? Sejauh ini, belum ada komentar para ulama yang terlacak tentang bulan apa dan tanggal berapa baik musim panas atau musim dingin yang diperbolehkan menjama’ seperti disebutkan di atas. Intinya, kapan kesulitan dalam menunaikan shalat pada waktunya itu dirasakan betul (bukan kondisi malas).
4. Tentu berlaku untuk pendidikan terhadap anak-anak. Bahkan Syeikh Yusuf Qardhawi membolehkan menjama’, jika mahasiswa dalam kondisi tertentu seperti karena perkuliahan, di laboratorium, atau dokter yang sedang dalam praktek, dan tidak memungkinkan meninggalkan pekerjaan itu. Karena Imam Ahmad dan Ibn Sirin pernah berfatwa, boleh menjama dua shalat, disebabkan karena kesulitan atau keperluan tertentu.
5. Jika isya sudah dijama takdim (dengan maghrib), maka otomatis setelah selesai isya diperbolehkan untuk menunaikan shalat tarawih.
Demikian yang bisa ana jelaskan dari pertanyaan antum..wallahu a’lam..
Akhukum..
Abas Mansur Tamam
---------
Tambahan.
FATWA TERKAIT PELAKSANAAN SHOLAT TARAWIH DI JERMAN (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
Assalamualaikum wr wb
Beberapa waktu lalu telah didiskusikan seputar pendapat/fatwa institusi bernama RIGD yg berkantor di Frankfurt terkait pelaksanaan shalat tarawih. Namun karena file PDF fatwa tsb bhs arab dan jerman, tampaknya masih belum difahami isinya oleh sebagian orang. Ini saya ringkaskan dalam bahasa indonesia.
Posting saya ini bukan dalam memberikan fatwa, akan tetapi sekedar meringkaskan hal yang sudah ada dalam bhs indonesia. Fatwa mana yang diikuti, asal jelas dalilnya, maka pilihan masing2.
==============================
Beberapa waktu lalu telah didiskusikan seputar pendapat/fatwa institusi bernama RIGD yg berkantor di Frankfurt terkait pelaksanaan shalat tarawih. Namun karena file PDF fatwa tsb bhs arab dan jerman, tampaknya masih belum difahami isinya oleh sebagian orang. Ini saya ringkaskan dalam bahasa indonesia.
Posting saya ini bukan dalam memberikan fatwa, akan tetapi sekedar meringkaskan hal yang sudah ada dalam bhs indonesia. Fatwa mana yang diikuti, asal jelas dalilnya, maka pilihan masing2.
==============================
Disebutkan dalam dokumen tsb bahwa pada intinya mereka mengikuti fatwa dari European Council for Fatwa and Research
PUASA Di Jerman masih bisa diketahui waktu Shubuh/Imsak dan Maghrib. Oleh karena itu jadwal puasa di Jerman mengikuti lokasi setempat dan tidak mengikuti Makkah
SHALAT JAMA' MAGHRIB & ISYA' DI JERMAN
Pada tanggal 18 Mei s.d. 8 Agustus secara umum diperbolehkan menjama' Maghrib dan Isya' di Jerman. Jama' artinya begitu shalat yang pertama selesai, maka diikuti oleh shalat yang kedua dengan tanpa jeda waktu.
Alasan: sulitnya memastikan waktu Isya' di Jerman (yakni posisi matahari 18° di bawah horison).
SHALAT TARAWIH
Dalam dokumen tsb. ada 3 alternatif:
1. Begitu masuk maghrib, maka dilakukan iftar (makan dan minum). 1 jam atau 1,5 jam kemudian maka dilaksanakan shalat maghrib, lalu dijama' isya', lalu Tarawih.
2. Begitu masuk maghrib maka dilakukan shalat maghrib, setelah itu ifthar (makan+minum). 1 jam atau 1,5 jam kemudian baru isya'+tarawih.
Maka praktik ini sebenarnya juga menjama' shalat namun dengan diselingi jeda waktu (pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim).
3. Masjid yang tidak melakukan shalat jama' maghrib+isya', disarankan utk mengikuti jadwal daerah latitude (Breitengrad) 45°.
IQAMAH SHALAT SHUBUH
Iqamah disarankan untuk diakhirkan, supaya mempermudah orang datang ke masjid.
Kemudian disebutkan dalam fatwa tsb. bahwa dalam hal2 seperti ini biasa ada perbedaan pendapat. Yang dikedepankan adalah sikap toleran. Oleh karena itu silahkan saja jika mengikuti perhitungan atau pendapat lain yang ada, yang dengan pendapat yang lain tsb. manusia bisa melaksanakan shalat dengan mudah (tidak sulit) dan dengan tidak terpaksa.
Insitusi tsb. menyeru kpd masjid2 di Jerman utk mampu bersepakat menyusun jadwal shalat setahun yang seragam (dengan tetap memperhitungkan perbedaan waktu antar regional di jerman).
Demikian terjemahnya, semoga bermanfaat.
===================
Tambahan dari saya: daerah 45° contohnya: Perancis bagian selatan, Italia (Turin, Milan, Venesia), Kroatia. Bandingkan: jerman paling selatan 47°. Jerman utara misalnya Hamburg pada posisi 53°.
Saya pribadi, selama ini memang belum pernah mengetahui detail penentuan shalat isya' di masjid Turki atau masjid islamic center nürnberg, 2 buah masjid yang saya shalat berjamaah di sana.
Contoh jadwal hari Selasa 16 Juli:
Masjid Turki: maghrib 21:23 isya 22:53
Masjid Islamic Center: maghrib 21:17 isya 22:47
Kalau diperiksa jadwal tiap harinya di bulan Juli ini: maka antara maghrib dan isya' bedanya selalu konstant = 1,5 jam. Apakah ini berarti waktu isya' di 2 masjid tsb. berdasarkan pendapat 1,5 jam jarak maghrib dan isya'? Jadi sebenarnya tidak menentukan isya' dengan posisi matahari, namun lebih pada waktu maghrib + 1,5 jam ? Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan oleh ke 2 masjid ini adalah opsi tarawih no. 2 yakni: maghrib on-time. Lalu makan minum, kemudian 1,5 jam kemudian shalat isya'. Maka seandainya waktu isya'nya belum masuk (menurut ukuran posisi matahari), berarti kami melakukan shalat jama' maghrib isya' dengan jeda 1,5 jam.
Wallahua'lam saya sendiri tidak tahu bagaimana
menandai waktu isya' di musim panas ini dg ukuran alam. Ada yang bilang,
di musim panas ini langit tidak akan pernah gelap.
Semoga bermanfaat
Wassalam
a.fatih
Semoga bermanfaat
Wassalam
a.fatih
Nuernberg, 17 Juli 2013

















